Selasa, 16 April 2019

Bolongan songgo ,sembilan lubang. Inti puasa.


HOWO SONGO

BABAHAN HAWA SANGA ( 9 lubang )

Ini yg kita bahas, kita sering menjumpai orang yang belum matang dalam berpuasa sehingga puasa yang dilakukan hanyalah sebatas menahan haus dan lapar.puasa yang seperti itu adalah puasa yang hanya berada dalam tingkatan dasar berpuasa.Puasa yang hanya tidak makan dan minum itu yang dinamakan belum paham mengenai esensi dasar berpuasa.
Puasa yang sudah mengalami peningkatan mutu spiritual adalah puasa mereka yang sudah mulai memahami makna dan esensi puasa hingga sudah tidak masuk lagi pada tataran fisik tapi juga masuk kedalam tataran batin.yaitu tataran yang mampu bermanifestasi pada akal budi dan perilaku.puasa seperti inilah yang dimaksud dalam perintah berpuasa :”laalakum tattaquun” agar kamu menjadi taqwa atau agar kedekatan dan penghormatan kepada Tuhanmu menjadi semakin besar.
Babahan howo songo ,bahwa manusia hendaklah menjaga dari hawa nafsu yang keluar dari 9 lubang yaitu : dua dimata,dua telinga ,dua hidung, satu mulut ,satu lubang dubur dan kelamin. 9 lubang itu adalah jalan masuk hawa pada manusia.Manusia akan lebih terarah hidup dan kehidupannya ketika mau berikhtiar untuk mengontrol 9 lubang hawa tadi.karena sebenarnya fitrah dari 9 jalan tadi adalah kesucian dan jalan pengabdian kepada sang khaliq
.
Mata fitrahnya itu suci untuk melihat banyak keajaiban ayat ayat Tuhan yang terbentang didunia.memandang dunia yang begitu indah sehingga muncul rasa kagum kita pada sang pencipta.mata juga bisa kita gunakan untuk sering membaca ayat ayat suci yang turun dari langit lewat Nabi.
Telinga itu Fitrahnya suci yaitu mendengar kalimat puji pujian kepada sang Pencipta dari seperti subhanallah wal hamdulilah walaa ilaha illalllah wallahu Akbar.ataupun senandung wirid wirid yang lain telinga juga bisa juga senang jika digunakan untuk mendegar ayat ayat suci yang dilantunkan dari masjid,surau atu musholla.
Mulut itu Fitrahnya suci yaitu untuk berkata yang baik,memberikan pujian bagi Allah,mengucapkan dzikir dan wirid setiap waktu serta memberikan kesejukan bagi jiwa. atau bisa dilakukan dengan bahasa sendiri atau bahasa apapun untuk memurnikan batin,toh Tuhan mengerti dengan bahasa apapun.
Hidung itu fitrahnya suci yaitu untuk bernafas dalam ridha allah.setiap nafas yang masuk kedalam lubang hidug kita dengan rasa syukur dan iman kepada Allah insyaAllah akan membuat jiwa menjadi lebih mutmainah dan tentram
Lubang dubur manusia itu juga merupakan jalan untuk mengeluarkan segala sesuatu yang tidak lagi diperlukan oleh tubuh.
Lubang kemaluan itu juga fitrahnya suci untuk menjalin hubungan dengan suami atau istri yang sah .menjaganya dengan sepenuh hati akan membuat hidup seseorang akan lebih mudah dan menjadikannya sebagai seorang yang memiliki tingkat yang luar biasa.
Semestinya manusia yang sudah dewasa secara batin tidak hanya berpuasa karena puasa itu diwajibkan tetapi berpuasa karena keikhlasan agar hidupnya menjadi lebih terarah secara spiritual
Manusia yang mampu menjaga puasanya seperti menjaga jubahnya agar tak melekat didalamnya rasa iri dengki ,takabur,riya,ujub,dan sebagainya sehingga jubah hatinya tak terkotori oleh akhlak yang menjauhkan dirinya dari sisi Tuhan.Manusia itu adalah makhluk yang pemalas. Seandainya perintah puasa itu tidak wajib maka belum tentu semua orang mau berpuasa. Manfaat puasa sangat banyak dan tentu haruslah diisi dengan banyak hal yang bermanfaat seperti membaca Alquran,bersedekah ,melakukan amalan amalan yang baik dan sebagainya.

HENING CIPTO NUTUP BABAHAN HOWO SONGO
Keheningan meliputi alam kasunyatan, karena banyak manungsa yang tidak lagi mengolah RASAnya. Terasa sendiri jika berada disana, tanpa tersadarkan ini sudah berlangsung sekian lama sejak para leluhur suci masih ikut mengemong para pujangga jiwa.
Inikah tanda bahwa jagad ini memang harus menuju titik tertentu lagi, seperti yang terjadi pada zaman cipta kala. Jikalau demikian, kemanakah atma-atma akan berlabuh, sudah waktukah harus di turunkan lagi para Kasampurnaan untuk kesekian kalinya?
Luhur cipta, akar persona, akankah manungsa sejati akan kembali merajut cinta dalam diri. Jika tidak dimulai dari sekarang maka kapankah waktu yang tepat. Apa yang di agung-agungkan sebagai kebenaran kasunyatan hidup hanyalah penyangkalan atas ketidak tahuan, ibarat bulan yang dikatakan purnama maupun sabit, padahal purnama dan sabit tidak pernah terjadi, itu yang “KAU” akui dan agungkan sebagai kebenaran kasunyatan hidup?
Jika selangkah saja kita tidak bisa mengolah RASA ini, marilah sedikit saja kita Heningkan Cipta. Hening tandanya diam, diam dengan “ntutupi babahan hawa sanga” yang mana arahnya adalah kepada penyangkalan terhadap kepuasan akan pencapaian diri saat ini. Cipta tandanya unsur gerak, gerak dari sukma bukan dari pikiran, gerak dengan “urip iku hanguripi” yang mana arahnya adalah kepada penyatuan untuk mencapai keseimbangan/keserasian dalam “hidup” ini.
Matur Suwun Gusti Pangeran Ingkang Sejatos, akan bertemunya dengan Para Kadang sebagai pencinta kehidupan kasunyatan yang terus melihat dalam sukma. Semoga inilah tanda semua atma akan yang belum berlabuh bisa bertemu dengan Para Kadang jagad ini. Cahaya pekerti biar tetap bersinar walaupun masih dalam proses menuju.
Babahan Hawa Sanga Melatih Eling Lan Waspada
Manusia pada dasarnya dituntut 2 pilihan dalam proses pencapaian rohani atau diri pribadi yang tinggi, yaitu memilih jalan luhur atau memilih jalan pintas (pilihan tersebut harus dipilih dengan ketegaran dan kewaspadaan akan peranan jin dalam menghasut manusia). Babahan Hawa Sanga mengajarkan manusia kejawen untuk memilih jalan luhur dan selalu waspada dengan jalan pintas yang ditawarkan jin. Jin sangat lihai dalam mengelabuhi bahkan terkadang menggunakan bujukan kasih sayang. Namun pada akhirnya terjadi sengsara. Perlu diketahui, jika kewaspadaan lengah dan manusia terhasut maka kegiatan rohani Babahan Hawa Sanga mengarah pada pelampiasan hawa nafsu duniawi, seperti ingin sakti mandraguna agar dapat kepercayaan dan diakui oleh sesama.
Tawaran menggiurkan jin ketika mempengaruhi 9 lubang hawa nafsu manusia tidak hanya sebuah tawaran, tetapi kenyataan akan terjadi. Jika jin menawarkan sakti, kita akan sakti. Sebagai contoh : praktek-praktek spiritual yang telah banyak berkembang di masa leluhur dan saat ini. Untuk mendapatkan “ilmu kebal lembu sekilan”, dimana ilmu yang menawarkan kekebalan tubuh tanpa ada barang tajam atau tumpul yang mengenai tubuh, tapi berjarak 1 jengkal jari-jari tangan. Ilmu kebal lembu sekilan dilatih dari pembukaan pintu gerbang ruh, mulut, 2 hidung dan 1 dubur. Kemudian setelah terbuka akan berjumpa dengan penghuni 4 lubang hawa nafsu tersebut. Terwujudlah komunikasi antara makhluk penghuni 4 lubang hawa (2 hidung, 1 mulut dan 1 dubur) kita akan ditawari keberhasilan atas keinginan kita, lalu setelah mengucapkan keinginan, penghuni 4 lubang tersebut memberikan ilmu kanuragan tersebut. Sekilas melihat pelatihan rohani tersebut adalah sepele namun memiliki kandungan hawa nafsu kekerasan yang luar biasa dan sulit untuk mengendalikannya. Keinginannya hanya penyelesaian masalah dengan kekerasan.
Cobaan tersebut memang sering dialami oleh manusia kejawen, namun perlu diketahui Babahan Hawa Sanga meminta manusia kejawen untuk mewaspadai hasutan tersebut dan selalu ingat pada Sang Pencipta. Belum lagi jika sudah ditemui oleh penghuni 999 makhluk di organ kita. Kita akan bisa melakukan apa saja yang kita mau, seperti menghilang kemudian muncul kembali, pergi dengan jarak 60 km hanya dengan 5 menit bahkan hanya dengan 1 kedipan mata, bisa terbang di atas angin atau merubah daun menjadi emas atau uang dan lain-lain. Namun hal itu maya, walaupun nyata terjadi. Pilihan tersebut bukanlah abadi. Di situlah letak bujukan jin atas 999 penghuni organ kita. 999 organ apabila mampu dibuka, kita akan seperti nenek moyang yang memiliki ajian bala sewu atau sukma sewu. Jika diterapkan, kita memiliki 999 wajah yang serupa dengan kita. Namun, nenek moyang kita hanya digunakan saat berperang melawan musuh atau dalam kondisi terancam bahaya.
Babahan Hawa Sanga adalah warisan leluhur. Saat ini banyak cerita mitos tentang nenek moyang kita yang saktinya luar biasa. Hal itu bukanlah cerita mitos semata, karena sampai sekarang pengalaman tersebut masih ada yang memiliki di pinggiran kota. Boleh-boleh saja mengatakan itu imajinasi atau berkhayal karena hal itu adalah hak prinsip pribadi masing-masing. Terserah bagi yang menilai, itu pendapat penilaian yang artinya persepsi, hakiki adanya. Namun, alangkah baiknya jika dicoba dulu misteri Babahan Hawa Sanga ini, pasti akan mengalami. Kalau sudah mengalami pasti akan berbicara beda.
Kembali kepada pengetahuan Babahan Hawa Sanga. Di dalam pengetahuan ini, bertujuan untuk mencari sangkan paraning dumadi atau mencari jalan terang Sang Pencipta, ketika esok kita kembali kepada-Nya. Pengetahuan ini tidak mengajak umat manusia untuk melatih kesaktian tetapi beribadah kepada Sang Pencipta sesuai perkembangan masa, waktu manusia atau masa waktu beribadah lahir. Kemudian beribadah batin (jiwa pikiran) dan kemudian beribadah ruh.
Babahan Hawa Sanga mengajak melatih kesetiaan tubuh jasmani, dengan cara membangun keteguhan, ketekunan dan kepastian terhadap Sang Pencipta. Tubuh jasmani dipersujud sembahkan kepada Sang Pencipta dengan mengikuti aturan-aturan kegiatan rohani seperti samadi. Tubuh memiliki kandungan hawa nafsu negatif, oleh karena itu harus disucikan dengan kegiatan devasi (penderitaan). Ibadah milah masih bersifat individu atau pribadi atau belum untuk sesama.
Sedangkan jiwa pikiran diteguhkan keyakinannya agar selalu tunduk, sujud dan hormat kepada Sang Pencipta. Kesetiaan dan kepasrahan dibina, kemudian direalisasikan di lingkungan keluarga, lingkungan kerja maupun lingkungan sosial. Realisasi tersebut bermaksud untuk menguji kesetiaan yang penuh ikhlas dan rela pasrah. Salah satu cara yang diuji adalah melakukan pelayanan penyembuhan bagi yang membutuhkan.
Jika sudah memiliki energi prana yang besar dan lebih, kenapa tidak disumbangkan bagi yang membutuhkan. Itulah dasar-dasar menguji kesetiaan jiwa pikiran kita terhadap Sang Pencipta. Kita akan mengeluh tidak ataukah kalau sudah mampu menyembuhkan apakah kita akan menyumbangkan diri atau angkuh? Jelasnya, keteguhan jiwa pikiran ini terhadap Sang Pencipta sebagai perwujudan titah Sang Pencipta atas hubungan horisontal, yaitu hubungan baik dengan sesama manusia dan sesama makhluk semesta. Ibadah ini disebut tarekat.
Di dalam melatih kesetiaan pribadi ruh dengan Sang Pencipta diperlukan ibadah ruh. Persujudan menyembah kepada Sang Pencipta dilakukan secara tulus iklas dan rela pasrah dilakukan oleh pribadi ruh. Bukan lagi melalui lahir atau jiwa pikiran saja, tetapi pribadi ruh saatnya memimpin tubuh jasmani dan jiwa pikiran beserta kelengkapannya (rasa, kalbu, naluri, budi dan atman). Persujudan ini adalah wujud hubungan vertikal hubungan antara ruh pribadi manusia dengan Sang Pencipta.
Untuk mencapai tahapan interaksi Sang Pencipta, ruh pribadi harus melakukan pekerjaan alam astral yaitu ikut berkewajiban menyeimbangkan, menselaraskan dan mengharmoniskan makhluk penghuni alam astral. Dari pengalaman vertikal, akan mendapatkan nilai-nilai luhur bagaimana harus mengembangkan masalah tanggung dunia, dalam hubungan pengetahuan ini adalah mengentaskan hambatan di dalam penyembuhan bagi yang membutuhkan.

Ilmu Babahan Hawa Sanga
Babahan Hawa Sanga berarti 9 lubang energi (hawa). Menurut sengkalan budaya Jawa, babahan memiliki arti 9, Hawa itu juga 9 dan Sanga berarti 9. Lubang energi itu bisa disebut pusat inti meridian organ tubuh manusia yang terhubung dalam konstruksi kejiwaan manusia. Keluar masuknya energi dari alam semesta sekitar (hawa) dan jiwa nafsu di dalam tubuh manusia sebagai hubungan mikro dan makro kosmis melalui 9 lubang Babahan Hawa Sanga yang harus dijaga keseimbangannya. Inilah dasar ajaran Memayu Hayuning Bawana di dalam diri manusia kejawen.
Tertera sengkalan Babahan Hawa Sanga itu berarti ada 999 lubang hawa. Pertama sumber inti dari Babahan itu. 99 dari jumlah meridian Nawa Sanga. Sedangkan secara keseluruhan Babahan Hawa Sanga ada sub meridian berjumlah 999 lubang hawa energi. Itulah rahasia dibalik 999 lubang itu dalam aktivitasnya di sebut Bala Srewu (Bala Sewu) dalam diri tiap manusia. Terlepas percaya atau tidak dan selera atau tidak, setiap manusia memilikinya tanpa ada batasan apapun dalam filsafat dan keyakinan tiap budaya bangsanya di dunia manapun juga.

Istilah Bala Sewu berjumlah 1000 bantuan atau penolong. Sedangkan Babahan Hawa Sanga tertera 999 dan kurang 1 itu milik pribadi sejati (ROH SEJATI) yaitu diri pribadi manusia itu, bukan jiwa dan bukan organ fisiknya, tetapi ROH SEJATInya. ROH SEJATI inilah yang tunduk pada hukum Sangkan Paraning Dumadi sebagai ketegasan Roh Sejati bertanggung jawab kepada Tuhan PenciptaNya.
Hawa/Howo bahasa Jawa dapat berarti lubang, dan Hawa dalam bahasa Arab dapat pula berarti keinginan atau kehendak. Hawa nafs berarti keinginan jiwa (nafs = jiwa). Jiwa dalam ilmu jiwa (psikiatri) dibedakan dengan pengertian nyawa atau ruh. Jiwa adalah manifestasi kesadaran manusia dengan kecenderungan-kecenderungan yang dapat dipelajari baik secara kaidah ilmu ilmiah (psikiatri) dan kaidah ilmu psikologi. Dari penanda dalam bahasa Jawa : Babahan Hawa Sanga, yang biasanya kalimat lengkapnya adalah sebuah nasihat : “Nutupi babahan hawa sanga” ini mari kita coba jelaskan tentang babahan Hawa Sanga.
Babahan Hawa Sanga artinya 9 keinginan jiwa (hawa nafs) yang harus diwaspadai agar tidak salah arah, akibat dibukanya secara tak terkendali 9 jendela lubang (howo) pemicu hawa (keinginan) dalam diri jiwani manusia.
Percaya atau tidak, 9 lubang yang ada pada fisik manusia ini pada hekatnya juga mempengaruhi batiniah manusia. Orang Jawa yang sudah jawa (mengerti) biasanya cukup berpesan kepada anak cucunya untuk sedapat mungkin menutupi babahan hawa sanga dalam arti berusaha tidak menyimpangi (mengerem dari menyimpangi) hawa nafs atau keinginan jiwa yang bersumber dari 9 lubang jendela dalam diri manusia.
2 Hawa pertama adalah Mata kanan dan Hawa kedua adalah Mata kiri, penanda ini adalah perwujudan keinginan jiwa yang bersumber dari dibukanya jendela mata. Bisa dengan istilah gaul lapar mata. Keinginan jiwa (hawa nafs) yang berasal ketika jendela mata dibuka dengan ‘diafragma lebar’ dan membiarkan mata terpapar/tereksposure oleh pemandangan yang menyebabkan hati menjadi memiliki keinginan syahwati. Syahwati artinya bisa macam-macam, pemenuhan lubang jiwa, bisa punya keinginan untuk menikmati suatu hal, keinginan memiliki dan mencoba suatu hal dari sumber informasi ke otak dari hasil pandangan mata. Pandangan mata bila diarahkan ke hal-hal yang arrousal maka akibatnya bisa menjurus ke arah maksiat. Pandangan mata mudah melekat pada lawan jenis, dan justru karena ini banyak yang ingin memuaskan pandangan matanya untuk menyaksikan eksplorasi tubuh lawan jenis. Jika ke istri/suami sendiri maka sah saja, tapi bila jendela mata dibuka lebar untuk menyimpang ke arah sajian baik yang live maupun media visual yang mengarahkan libido, maka ini lain halnya.
2 Hawa ketiga adalah Lubang Telinga Kanan dan Hawa keempat adalah Lubang Telinga Kiri. Telinga kadang mendengar apa yang kita sukai saja, dan bila jendela telinga dibuka dengan ‘diafragma lebar’ untuk terpapar gosip, dengar asyik gunjing-menggunjing maka telinga akan semakin menikmati untuk mendengar yang tidak semestinya dibuka lebar untuk didengar, apalagi bila telinga suka digunakan untuk mendengar hal-hal yang mengarah pada persekongkolan jahat, dan yang mengarah ke perbuatan maksiat. Keinginan yang bersumber dari 2 jendela telinga dapat merasuk dalam jiwa (hawa nafs) berarti keinginan jiwa.
2 Hawa kelima adalah Lubang Hidung Kanan, dan Hawa Keenam adalah Lubang Hidung Kiri. Indra penciuman dapat merefleksikan sinyal kimiawi ke otak dan akan direspon dengan memicu aneka hormonal jika mencium sesuatu. Bila mencium bau yang wangi, misalkan wangi parfum maka akan benar bila dalam kondisi tidak dibangkitkan oleh hawa nafs atau keinginan jiwa yang menyimpang. Sebaliknya, keinginan jiwa (hawa nafs) yang menyimpang akan semakin mendapat dorongan jika pembukaan lebar lubang hidung diproses untuk mencium wangi atau aneka bau yang membangkitkan keinginan untuk melakukan maksiat, katakanlah mencium wangi parfum seorang pedagang seks, -tidak akan berakibat apapun pada orang yang tidak membiarkan keinginan jiwanya (hawa nafsnya) menyimpang-. Sebaliknya, jika telah ada goresan dalam hati untuk berbuat menyimpang menuju kemaksiatan, maka mencium wangi parfum pedagang seks atau pasangan ilegal, akan dapat mengantarkan hawa jiwa lempang menuju ke arah yang menyimpang, yang memang diinginkan. Ada guyonan pada jaman edan ini : ‘hal-hal yang memang diinginkan’.
1 Hawa ketujuh adalah Mulut. Banyak keinginan jiwa (hawa nafs) yang bersumber bila jendela mulut dibuka lebar, sehingga terpapar atau terekspose oleh hal-hal yang bersifat memenuhi unsur rakus (gluttony dalam seven deadly sins). Rakus adalah makan tanpa ingat orang yang lapar. Mulut juga merupakan salah satu jendela hawa sanga yang rawan untuk mengantarkan orang menuju ke kebinasaan. Mulut yang berkata bohong, mulut yang makan barang dilarang, dan yang diperoleh dari barang yang dilarang. Mulut yang mengeluarkan perkataan yang menyakitkan, dan yang mengeluarkan kata-kata yang rusak (alias cangkem letrek dalam bahasa Jawa kasar). Hawa nafs atau keinginan jiwa memang bisa dipenuhi oleh mulut, namun orang Jawa yang telah jawa (mafhum) memandang harus sedapat mungkin menutup keinginan mulut, dan hanya membukanya untuk maksud-maksud yang baik saja.
1 Hawa  yang kedelapan adalah Lubang Kemaluan. Banyak unsur keinginan jiwa (hawa nafs) yang bersumber dari dibukanya jendela lubang kemaluan menjadi terpapar atau terekspose hal-hal maksiat yang sejatinya merugikan. Ada orang yang bilang mengapa merugikan ?, kan menguntungkan bila dibuat maksiat? Well, saya bukan orang yang suci, tapi setidaknya ada pengetahuan umum yang menyatakan kalau freesex pada akhirnya akan merugikan kesehatan mental, dan kesehatan fisik dan akhirnya merugikan kehidupan. Kalau tidak percaya ya jangan mencoba, hanya lihatlah saja gejala orang-orang di sekitar yang menjalankan free sex.
1 Hawa kesembilan adalah Lubang Dubur. Keinginan yang bersumber dari lubang dubur ini adalah keinginan buta kaum Nabi Luth yang ada di kota Sodom dan Gomorah. Kedua kota (ancient city) ini telah hancur luluh dipecut (whiplas) oleh bencana alam. Kita memang tidak dapat menghakimi orang yang cenderung mengeksploitasi anal sebagai sumber kenikmatan hawa (keinginan) jiwa/ (hawa nafs) nya, tapi, logikanya kalau tidak murka, mengapa Sodom dan Gomorah dihancurkan oleh Nya ? Bukan hanya sekedar bencana alam kemudian bangun kembali seperti bencana jaman sekarang, tapi bencana yang membinasakan (total annihilation) dan hanya Nabi Luth atau Nabi Lot yang disisakan, kecuali perempuan tua yang menjadi istrinya yang suka akan tabiat menyimpang tersebut jadi abu. Dewasa ini banyak terjadi sodomi oleh orang yang memiliki penyakit dalam hatinya terhadap anak-anak kecil, anak jalanan dan korban-korban yang rentan. Hal ini amat bahaya bila tidak ada pihak yang berbicara akan bahaya pengumbaran kejahatan ini.
BABAHAN HAWA SANGA MELATIH ELING LAN WASPADA
Manusia pada dasarnya dituntut 2 pilihan dalam proses pencapaian rohani :
Memilih jalan luhur
Memilih jalan pintas
(Pilihan tersebut harus dipilih dengna ketegaran dan kewaspadaan akan peranan jin dalam menghasut manusia).
Babahan hawa sanga mengajarkan manusia kejawen untuk memilih jalan luhur dan selalu waspada dengan jalan pintas yang ditawarkan jin. Jin sangat lihai dalam mengelabuhi bahkan terkadang menggunakan bujukan kasih sayang. Namun pada akhirnya terjadi sengsara. Perlu diketahui, jika kewaspadaan lengah dan manusia terhasut maka kegiatan rohani babahan hawa sanga mengarah pada pelampiasan hawa nafsu duniawi, seperti ingin sakti mandraguna agar dapat kepercayaan dan diakui oleh sesama.
Tawaran menggiurkan jin ketika mempengaruhi 9 lubang hawa nafsu manusia tidak hanya sebuah tawaran, tetapi kenyataan akan terjadi. Jika jin menawarkan sakti, kita akan sakti. Sebagai contoh : praktek-praktek spiritual yang telah banyak berkembang di masa leluhur dan saat ini. Untuk mendapatkan “ilmu kebal lembu sekilan”, dimana ilmu yang menawarkan kekebalan tubuh tanpa ada barang tajam atau tumpul yang mengenai tubuh, tapi berjarak 1 jengkal jari-jari tangan. Ilmu kebal lembu sekilan dilatih dari pembukaan pintu gerbang ruh, mulut, 2 hidung dan 1 dubur.
Kemudian setelah terbuka akan berjumpa dengan penghuni 4 lubang hawa nafsu tersebut. Terwujudlah komunikasi antara makhluk penghuni 4 lubang hawa (2 hidung, 1 mulut dan 1 dubur) kita akan ditawari keberhasilan atas keinginan kita, lalu setelah mengucapkan keinginan, penghuni 4 lubang tersebut memberikan ilmu kanuragan tersebut. Sekilas melihat pelatihan rohani tersebut adalah sepele namun memiliki kandungan hawa nafsu kekerasan yang luar biasa dan sulit untuk mengendalikannya. Keinginannya hanya penyelesaian masalah dengan kekerasan.
Cobaan tersebut memang sering dialami oleh manusia kejawen, namun perlu diketahui babahan hawa sanga memminta manusia kejawen untuk mewaspadai hasutan tersebut dan selalu ingat pada Sang Pencipta. Belum lagi jika sudah ditemui oleh penghuni 999 makhluk di organ kita. Kita akan bisa melakukan apa saja yang kita mau, seperti menghilang kemudian muncul kembali, pergi dengan jarak 60 km hanya dengan 5 menit bahkan hanya dengan 1 kedipan mata, bisa terbang di atas angin atau merubah daun menjadi emas atau uang dan lain-lain. Namun hal itu maya, walaupun nyata terjadi. Pilihan tersebut bukanlah abadi. Disitulah letak bujukan jin atas 999 penghuni organ kita. 999 organ apabila mampu dibuka, kita akan seperti nenek moyang yang memiliki ajian bala sewu atau sukma sewu. Jika diterapkan, kita memiliki 999 wajah yang serupa dengan kita. Namun, nenek moyang kita hanya digunakan saat berperang melawan musuh atau dalam kondisi terancam bahaya.
Babahan hawa sanga adalah warisan leluhur. Saat ini banyak cerita mitos tentang nenek moyang kita yang saktinya luar biasa. Hal itu bukanlah cerita mitos semata, karena sampai sekarang pengalaman tersebut masih ada yang memiliki di pinggiran kota. Ketika ayah saya masih hidup, saya pernah melihat ayah membunyikan jari kelingking di depan pohon randu alas di wilayah Muntilan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah. Setelah membunyikan jari kelingking, pohon randu alas tersebut menikukkan ujungnya sampai di permukaan tanah. Apakah hal itu sama halnya yang dilakukan Ki Ageng Giring ketika mengambil buah kelapa (menurut cerita mitos –red-).
Boleh-boleh saja mengatakan itu imajinasi atau berkhayal karena hal itu adalah hak prinsip pribadi masing-masing. Terserah bagi yang menilai, itu pendapat penilaian yang artinya persepsi, hakiki adanya. Namun, alangkah baiknya jika dicoba dulu misteri babahan hawa sanga ini, pasti akan mengalami. Kalau sudah mengalami pasti akan berbicara beda.
Kembali kepada pengetahuan babahan hawa sanga. Di dalam pengetahuan ini, bertujuan untuk mencari sangkan paraning dumadi atau mencari jalan terang Sang Pencipta, ketika esok kita kembali kepada-Nya. Pengetahuan ini tidak mengajak umat manusia untuk melatih kesaktian tetapi beribadah kepada Sang Pencipta sesuai perkembangan masa, waktu manusia atau masa waktu beribadah lahir. Kemudian beribadah batin (jiwa pikiran) dan kemudian beribadah ruh.
Babahan hawa sanga mengajak melatih kesetiaan tubuh jasmani, dengan cara membangun keteguhan, ketekunan dan kepastian terhadap Sang Pencipta. Tubuh jasmani dipersujud sembahkan kepada Sang Pencipta dengan mengikuti aturan-aturan kegiatan rohani seperti samadi. Tubuh memiliki kandungan hawa nafsu negatif, oleh karena itu harus disucikan dengan kegiatan devasi (penderitaan). Ibadah milah masih bersifat individu atau pribadi atau belum untuk sesama.
Sedangkan jiwa pikiran diteguhkan keyakinannya agar selalu tunduk, sujud dan hormat kepada Sang Pencipta. Kesetiaan dan kepasrahan dibina, kemudian direalisasikan di lingkungan keluarga, lingkungan kerja maupun lingkungan sosial. Realisasi tersebut bermaksud untuk menguji kesetiaan yang penuh ikhlas dan rela pasrah. Salah satu cara yang diuji adalah melakukan pelayanan penyembuhan bagi yang membutuhkan. Jika sudah memiliki energi prana yang besar dan lebih, kenapa tidak disumbangkan bagi yang membutuhkan. Itulah dasar-dasar menguji kesetiaan jiwa pikiran kita terhadap Sang Pencipta. Kita akan mengeluh tidak ataukah kalau sudah mampu menyembuhkan apakah kita akan menyumbangkan diri atau angkuh? Jelasnya, keteguhan jiwa pikiran ini terhadap Sang Pencipta sebagai perwujudan titah Sang Pencipta atas hubungan horisontal, yaitu hubungan baik dengan sesama manusia dan sesama makhluk semesta. Ibadah ini disebut tarekat.
Di dalam melatih kesetiaan pribadi ruh dengan Sang Pencipta diperlukan ibadah ruh. Persujudan menyembah kepada Sang Pencipta dilakukan secara tulus iklas dan rela pasrah dilakukan oleh pribadi ruh. Bukan lagi melalui lahir atau jiwa pikiran saja, tetapi pribadi ruh saatnya memimpin tubuh jasmani dan jiwa pikiran beserta kelengkapannya (rasa, kalbu, naluri, budi dan atman). Persujudan ini adalh wujud hubungan vertikal hubungan antara ruh pribadi manusia dengan Sang Pencipta. Untuk mencapai tahapan interaksi Sang Pencipta, ruh pribadi harus melakukan pekerjaan alam astral yaitu ikut berkewajiban menyeimbangkan, menselaraskan dan mengharmoniskan makhluk penghuni alam astral. Dari pengalaman vertikal, akan mendapatkan nilai-nilai luhur bagaimana harus mengembangkan masalah tanggung dunia, dalam hubungan pengetahuan ini adalah mengentaskan hambatan di dalam penyembuhan bagi yang membutuhkan.
Mengolah dan mempertajam bathin
Agar memiliki ketajaman nalar (daya cipta/intelegensia otak), nalar harus bisa menangkap makna yang terbersit dalam nurani. Jangan sampai lengah, sebab proses untuk menangkap gerataran nurani hanya berlangsung secepat kilat.
Nurani milik siapapun pastilah setajam “sembilu”, jika dirasa tumpul, itu bukan berarti salah nuraninya, melainkan tugas nalar sebagai cipta panggraitaning rahsa telah mengalami kegagalan.
Tugu manik ing samodra ; menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.
Adapun tentang bagaimana teknik atau tata cara agar supaya individu mampu meraba, merasakan dan membedakan mana getaran nurani, mana pula getaran nafsu.
Pertanyaan tersebut bukanlah sekedar latah, tetapi mengelola hati nurani merupakan hal yang signifikan untuk diupayakan dengan skala prioritas tinggi. Sebab ia menjadikan setiap pribadi mampu berdiri sebagai mandireng pribadi, yakni pribadi yang memiliki kemandirian dalam menentukan mana dan apa yang paling tepat, paling baik dilakukan.
Bukankah nilai manusia terletak pada kejernihan isi atau suara hatinya ?!! Suara hati atau hati nurani merupakan kesadaran aku akan tanggungjawab dan kewajiban aku sebagai makhluk bernama manusia dalam situasi yang sungguh-sungguh konkrit dan tepat. Sehingga suara hati harus dipatuhi dan diikuti. Hati nurani atau dalam terminologi Jawa disebut sebagai ALUSING PANDULU atau kehalusan daya cipta, yakni kekuatan yang atau kemampuan perasaan hati nurani untuk meraba, merasakan, membedakan, dan menentukan. Alusing pandulu merupakan pangkal dari otonomi setiap individu, yakni dasar dari kemandirian pribadi.
Pusat otoritas setiap pribadi berada di dalam hati nuraninya sendiri. Sementara itu untuk menyeleksi baik atau buruk merupakan tanggungjawab nalar dengan cara open minded atau pemikiran terbuka dan bebas menentukan pilihan dan keputusan mana yang paling tepat.
NURANI ; JENDELA MENEMBUS UNINONG, ANING, UNONG
Nalar pun kenyataannya sangat riskan dapat terkurung oleh suatu tembok yang bernama keyakinan membabi buta. Dengan kata lain, penghalang terbesar ketajaman nurani kita, tidak lain adalah doktrin-doktrin yang membelenggu nalar.
Mulai dari bentuk doktrin militer, doktrin budaya, doktrin seni, doktrin ideologi, hingga doktrin agama. Sebab itu doktrin lebih bersifat pengungkungan kesadaran, agar individu memiliki LOYALITAS tanpa perlu nalar.
Tanpa perlu menjawab PERTANYAAN-PERTANYAAN yang timbul dari HATI NURANI. Jika dianalogikan, doktrin merupakan alat yang serupa dengan KACAMATA KUDA, sementara “kuda” adalah perumpamaan insan.
Supaya kuda tetap berjalan lurus ke depan maka diperlukan kacamata (baca: doktrin). Sebab doktrin (kacamata kuda) mempunyai prinsip keharusan/kewajiban bahwa jalan ”kebenaran” hanyalah jalan yang lurus yang hanya tampak di depannya saja.
Sementara itu, adalah realitas dan fakta bahwa hidup ini banyak ditemukan “persimpangan jalan”, banyak sekali “jalan raya”, “jalan protokol”, “jalan daendels”, “jalan propinsi”, dan “jalan setapak”. Masing-masing “jalan” menuju ke satu tujuan yang sama yakni Sang Causa Prima atau Gusti (bagusing ati), Gusti ada di dalam aku.
Setiap orang hendak mencari Gusti di dalam aku, agar supaya diri kita menjadi aku di dalam Gusti. Dalam istilah Ki Ageng Suryomentaram disebut sebagai “rasa; aku bukan kramadhangsa” atau “aku kang madeg pribadi” atau saya sebut sebagai rahsa sejati. Itulah paraning dumadi manusia, tak berada jauh di atas langit sana, tetapi ada dalam setiap pribadi kita masing-masing.
Kesadaran ini dapat menjelaskan pula mengapa nenek moyang bangsa kita dulu jika berdoa tidak menengadah sambil menatap langit, melainkan cukup dengan telapak tangan memegang dada.
Dalam maneges pun tersebutlah NIAT INGSUN, yang bermakna Ingsun ing sajroning aku, Aku ing sajroning Ingsun. Konsep KGPAA Mangkunegoro ke IV sebagai roroning atunggil, dwi tunggal, atau asas Manunggaling Kawula kalawan Gusti. Sebuah pelataran spiritual yang pernah pula digelar oleh Ki Ageng Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging) bersama Syeh Lemah Abang sebagai UNINONG ANING UNONG.
Sementara itu, hati nurani selalu mampu menembus berbagai tembok penghalang, yang menghalangi obyektivitas sesungguhnya akan suatu realitas kehidupan. Nurani adalah kekuatan yang TAK BISA dikelabuhi oleh imajinasi, ilusi, dan polusi getaran nafsu. Nurani yang terasah akan menjadi “mata hati”, “mata jiwa” yang mampu menguak “kebenaran sejati”. Hanya saja, untuk menggali dan menemukan hati nurani, kita harus menggalinya dari kubangan lumpur yang penuh bakteri, kuman dan penyakit. Tulisan berikut bertujuan untuk berbagi kawruh (pengetahuan) dan ngelmu (pengetahuan spiritual), bagaimana cara paling sederhana agar kita dapat menemukan nurani yang dapat diumpamakan sebagai “berlian” yang terendam di dalam “lumpur kotor”.
TEKNIK MEMBUKA JENDELA NURANI
Kita harus menutup panca indera untuk membuka mata batin yang berada dalam jiwa kita. Mata batin adalah mata yang dapat melihat sesuatu secara lebih cerah, jelas, dan gamblang. Kecermatan dan kemampuannya menjabarkan fakta gaib dan wadag jutaan kali melebihi panca indera. Paling tidak terdapat lima sarat agar supaya kita betul-betul mampu merasakan dan membedakan apakah sesuatu getaran merupakan getaran NURANI (kareping rahsa) ataukah hanya sekedar getaran nafsu (rahsaning karep).
Beninging ati atau kejernihan kalbu. Antara suara hati dan nalar manusia selalu terjadi dialog, tarik menarik, bahkan masing-masing saling “berperang” untuk berebut pengaruh dan otoritas. Jika kekuatan keduanya berimbang gejalanya dapat kita rasakan pada saat terjadi kebimbangan dan keragu-raguan. Atau sikap ambigu, dan dualisme.  Sementara itu, jika nalar memenangkan jadilah pribadi yang hanya mengandalkan kemampuan rasio semata. Sehingga bagi dirinya banyak sekali hal-hal di luar nalar yang dengan segera ia tepis sebagai sesuatu yang tidak ada, omong kosong atau ngoyoworo. Hal-hal gaib dianggap sebagai sesuatu yang non-sense, dan di luar logika. Maka gaib pun dianggap omong kosong. Menurut saya pribadi, gaib pun ternyata sangat logis dan masuk akal. Jika ada hal gaib yang dianggap tidak masuk akal, ada dua kemungkinan yakni, pertama; benar-benar dongeng atau mitologi yang digaib-gaibkan. Kemungkinan kedua, nalar kita belum cukup menerima informasi akan rumus-rumus yang ada dan berlaku di dimensi gaib. Sementara itu beninging ati atau weninging tyas, akan tercipta manakala dialog, tarik-menarik, dan peperangan antara suara hati nurani dengan nalar berhenti sejenak. Saat itulah hati kita menjadi jernih, karena saat itu hati menjadi bebas merdeka dari segala bentuk “penjajahan” nalar yang seringkali terkooptasi oleh kepentingan pribadi, persepsi atau penilaian diri terhadap suatu obyek, serta ilusi dan imajinasi. Dalam dimensi lebih luas hati pun menjadi bebas dari kepentingan politik, kekuasaan, egoisme aliran, dan segala macam keinginan yang belum tercapai. Cara menghentikan dialog dan tarik-menarik antara hati dan nalar adalah dengan cara “mengalir mengikuti aliran air” atau (tapa ngeli). Yakni hidup dalam sikap kepasrahan. Konsentrasi pasrah bukan pada PROSES BERUSAHA atau saat berikhtiar, karena kepasrahan demikian ini merupakan konsep hidup yang salah kaprah. Pasrah yang dimaksud adalah pasrah akan ketentuan besar-kecil hasilnya akhir. Sementara itu dalam menjalani PROSESnya step by step kita tak boleh pasrah, tetapi harus berusaha secara maksimal, sekuat tenaga dan pikiran kita. Ada pepatah bola mengatakan,”Bermainlah bola secara cantik, soal menang kalah itu bukanlah urusan kita. Bila kalahpun, tetap akan menjadi “kesebelasan” yang disegani dan dihormati orang lain. Jangan konsentrasi pada hasil akhir, tetapi konsentrasilah pada proses. Hal ini menjadi salah satu kiat sukses dalam olah semedi atau meditasi. Bila anda berkonsentrasi pada hasil, maka yang terjadi nalar kita akan dipenuhi oleh angan-angan.
Sirnaning kekarepan atau sirnanya rahsaning karep. Atau lenyapnya semua maksud jahat, keburukan, dan tindakan hina-aniaya. Hal ini berkaitan dengan perilaku dan perbuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita menyakiti hati orang lain, baik sadar apalagi tanpa sadar. Jangan sampai mencelakai, merugikan, menyerobot hak orang lain. Untuk menuntun perilaku demikian diperlukan sebuah kesadaran kosmologis yakni sikap eling dan waspada.
Lereming pancadriya atau ketenangan panca indera. Ketenangan panca indera. Dalam spiritual Jawa dikenal sebagai BABAHAN HAWA SANGA atau babahan hawa (nafsumu), kosongna ! (bersihkanlah/kendalikanlah hawa nafsumu). Dapat pula diartikan 9 lubang pancaindera (2 lubang telinga, 2 lubang hidung, 2 lubang mata, 1 lubang kemaluan, 1 lubang silit/anus, dan 1 lubang mulut = 9 lobang) kesemuanya menjadi pintu masuk hawa nafsu hendaknya dikendalikan atau “dikosongkan”. Keberhasilan mengendalikan panca indera akan memperoleh ketenangan pancaindera. Sebaliknya, kegagalan lereming pancadriya seseorang akan tersiksa dalam kegelisahan panjang oleh karena gejolak nafsu syahwat (ngacengan/konakan/nafsuan), nafsu makan (mudah lapar, ngileran, ngelihan, kemaruk, rakus), nafsu tidur (ngantukan, moloran dst), dan banyaknya karep atau kemauan yang diinginkan (tidak pernah puas diri, sulit bersyukur), nafsu angkara (Penyakit Hati ; panasten, suka panas hatinya, mudah iri hati, drengki, serba pamrih, congkak, sombong, takabur, egois. Emosi yang Labil ; tersinggungan, mudah sedih, mudah marah, kagetan, gumunan), nafsu halus (suka gede ndase, gemar dipuji, pamrih pahala). Pola bekerjanya panca indra yang lebih dominan dalam merespon obyek kehidupan justru akan mengaburkan getaran atau bisikan nurani. Salah-salah, getaran nafsunya dianggap sebagai getaran nurani. Sementara itu lereming pancadira akan mengistirahatkan bekerjanya otak. Hal ini seperti halnya kita melakukan olah semedi atau meditasi.
Jatmikaning solah bawa atau perilaku lahir dan batin yang santun. Perilaku lahiriah (solah) merupakan refleksi dari perilaku batin (bawa). Jatmikaning solah bawa, merupakan wujud kekompakan perilaku yang melibatkan empat unsur yakni; hati, ucapan, pikiran dan perbuatan atau tindakan nyata. Berbekal dengan hati yang jernih akan mampu menuntun nalar kita supaya lebih cermat dalam menyeleksi mana yang baik dan mana yang buruk.
Selanjutnya bermodalkan kecermatan nalar dapat mengendalikan keinginan, dan memilah memilih serta mempertimbangkan secara arif dan bijak terhadap sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan diperbuat. Solah dan bawa yang keluar dari nurani memiliki karisma besar sehingga dapat menselaraskan apa yang ada di sekelilingnya dengan apa yang diinginkan dan diharapkan.
Dengan kata lain, jatmikaning solah bawa, menebarkan aura yang kuat, bagaikan medan magnet yang akan menyedot segala sesuatu yang senyawa dan sejenis. Kebaikan dan keburukan akan terkumpul dalam kumparan yang sejenis, terkonsentrasi dalam kelompoknya masing-masing.
Maka kebaikan akan berbalas dengan kebaikan yang berlipat. Welas asih akan berbalas kasih sayang yang berlimpah ruah. Kejahatan akan berbalas kejahatan berlipat. Limpahan itu bagaikan suara yang bergema, terucap dengan volume 7, akan berbalik menjadi suara dengan volume 14. Sebagaimana pernah saya singgung dalam thread terdahulu dalam LAKSITA JATI.
Begitulah rumus-rumus yang terjadi dalam hukum alam semesta. Pribadi yang menghayati jatmikaning solah bawa gerak-gerik, tingkah laku, watak wantun, sifat tabiatnya selalu enak dilihat dan membuat nyaman di hati (nuju prana).
Pribadi yang pembawaan sifatnya selalu nuju prana bagai gayung bersambut, di mana-mana selalu menciptakan ketentraman, kenyamanan, kebahagiaan bagi ornag-orang di sekelilingnya. Selalu membuat enak di hati, kinaryo karyenak ing tyas sesama. Perilaku nuju prana menjadikan pribadi yang penuh aura positif. Jika wanita maka inner-beauty-nya akan memancar kuat dari dalam sanubari. Jika seorang pria perilakunya selalu anggawe reseping pancadriya. Barangkali hal ini ada kaitannya, mengapa seseorang dengan tingkat spiritual yang sudah mapan dan matang akan memancarkan daya tarik yang kuat, terlebih terhadap lawan jenis. Selanjutnya kita sebut sebagai goda. Resiko menjadi besar, apabila libidonya tidak tersalurkan dengan penuh tanggungjawab, baik tanggungjawab terhadap diri pribadi, keluarga, maupun tanggungjawab publik.
5. Ke empat poin di atas merupakan teknik yang harus dihayati dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Selain ke empat langkah di atas, ada pula tata cara yang lebih pragmatis berupa ketrampilan untuk mempertajam indentifikasi mata hati, sekaligus kemahiran membedakan apakah getaran yang dirasa merupakan bisikan nurani (tuhan) atau kah bisikan nafsu (“setan”). Di antaranya adalah olah semedi, meditasi, maladihening, atau mesu budi.
Olah semedi dan meditasi, bertujuan untuk mencapai keadaan lereming pancadriya, sirnaning kekarepan, sarehing pangganda, dan beninging ati. Pencapaian ke empat keadaan diri tersebut pada gilirannya memicu ujung-ujung syaraf pancaindera menjadi lebih peka dalam mendeteksi segala sesuatu yang ada di sekitar diri kita, baik yang wadag maupun gaib.
Kepekaan ini disebut sebagai sad-indra atau indera ke-enam (six sense). Dalam khasanah spiritual Jawa, berfungsinya sad-indra disebut juga rasa rumangsa, atau krasa nanging ora rumangsa. Kepekaan rasa mampu mendeteksi lebih awal namun tidak disadari oleh akal.
Misalnya perkiraan anda sangat meyakinkan walau belum ada bukti apakah sesungguhnya yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Setelah dibuktikan secara faktual dan ilmiah ternyata benar adanya, sesuai apa yang semula anda yakini. Nah, rasa yakin yang ternyata benar itu adalah rasa rumangsa.
Bahkan terhadap hal-hal yang tidak tampak oleh mata pun dapat ditangkap singnal-signalnya melalui ujung syaraf perasa di seluruh permukaan tubuh. Diperkuat oleh pengendalian pusat (sentral) syaraf yakni otak (nalar), yang telah lebih peka pula karena sudah dapat membedakan yang NURANI dan yang bukan. Sehingga anda akan hafal betul dengan gejolak nurani anda sendiri. Hal itu membuat diri anda kadang-kadang mampu weruh sak durunge winarah. Anda tahu persis akan terjadi sesuatu peristiwa, sebelum suatu peristiwa itu terjadi.
Tampaknya sulit sekali kita mencapai kebisaan seperti di atas. Tetapi setelah kita MAU membiasakan diri menghayati semua tata laku tersebut, semuanya dapat kita raih dengan mudahnya. Anda akan mampu dengan sendirinya melalui beberapa tahap neng, ning, nung, nang. Yakni jumeneng, wening, sinung, dan menang. Kemenangan hidup bilamana kita bisa menjadi manusia yang merdeka lahir dan batinnya. Kemenangan diperoleh setelah kita kesinungan. Supaya kesinungan, kita harus selalu wening. Agar supaya bisa wening kita musti mau untuk jumeneng. Kemenangan hidup menjadi jalan setapak untuk menggapai uninong aning unong.
NURANI
Dengan landasan pemahaman dan pengelolaan seluk-beluk nurani seperti telah saya uraikan di atas, membuat setiap individu dapat mengendalikan DAYA PANGARIBAWA. Daya pangaribawa adalah sebuah kekuatan besar berasal dari getaran nurani. Berupa kewibawaan atau pengaruh kekuatan yang besar yang memancar dari tatapan mata, air muka, solah dan bawa (perilaku lahir dan batin).
Sementara itu tutur kata yang bersumber dari nurani, sangat berguna untuk mencapai suatu maksud dan tujuan yang diharapkannya. Daya pangaribawa akan memancar, beresonansi ke sekelilingnya, bahkan daya pangaribawa yang getaran “resonansinya” kuat sekali akan membahana memencar ke penjuru semesta alam. Mampu mewujudkan apa yang yang diharapkan. Apa yang dipikirkan dan diucapkannya mudah menjadi kenyataan. Belum lagi kita berdoa, harapannya sudah terkabul lebih dulu.
Metode ini menjelaskan pula bagaimana seseorang dapat memiliki kekuatan IDU GENI, sabdo pandito ratu, apa yang diucapkan pasti terwujud. Getaran alam akan selaras, sinergis dan harmonis dengan getaran nurani, demikian pula sebaliknya getaran nuraninya akan selaras dengan getaran (kodrat/hukum) alam. Di situlah letak “kesaktian” seseorang, manakala menjadi mandireng pribadi, berarti pula aku adalah alam semesta, kekuatan alam semesta adalah kekuatanku.
Yang ini menjelaskan pula bagaimana orang-orang zaman dulu, seperti Ki Ageng Selo, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, para Ratugung Binatara menjadi seorang pribadi yang sakti mandraguna. Di antaranya mampu menangkap dan mengendalikan petir, mampu menjebol dan memuntahkan lahar gunung berapi dll. Ini bukan sekedar dongeng atau mitologi, beliau-beliau bukanlah orang yang gegulangan ilmu karang, tetapi hanya karena berhasil menjadi manusia yang (dengan tingkat kesadaran) KOSMOLOGIS, lebih dari sekedar kesadaran spirit (untuk hal ini akan saya jabarkan dalam topik selanjutnya).
Siapapun anda, pasti bisa melakukan, asal ada kemauan. Secara teknis, proses daya pangaribawa menjadi hasil karya nyata, atau menjadi kalimat bertuah setelah melalui tahapan-tahapan berikut ini.
Panggraitaning cipta batin (bisikan nurani) yang secara tepat menentukan target dan memotivasi kepada pencapaian suatu tujuan (mligining cipta). Seseorang tidak akan merencanakan dan melakukan sesuatu di luar kehendak nurani. Sebaliknya keinginan yang bukan kehendak nurani tidak akan terwujud. Maka seseorang tidak akan berharap-harap selain yang berasal dari bisikan nuraninya sendiri.
Ketepatan Bertindak. Setelah suatu target dan tujuan secara tepat dapat ditentutan oleh nurani, dituntut konsistensi tata lahir atau gerak ragawi untuk mewujudkan target dan tujuan tersebut. Dengan diipandu oleh nalar budi pekerti (intelegensia nurani) atau kejernihan nalar membuat diri kita lebih cermat membaca sinyal-sinyal dari panggraitaning cipta atau bisikan nurani. Akan tetapi kejernihan nalar baru dapat kita ciptakan apabila kita mampu cara meletakkan pikiran pada sudut yang netral dan obyektif. Hal ini tidak mudah dilakukan, sebab nalar manusia selalu penuh dengan intrik, imajinasi, pengandaian, ilusi dan penuh dengan data-data mentah yang tidak mudah dicerna. Untuk itu hendaknya cyclon atau gelombang otak sering-sering diturunkan pada level bheta dan tetha. Jangan terus-terusan memforsir otak selalu bekerja pada level alpha. Sebab daya kecermatan gelombang alpha hanyalah berkisar 0,0000035 dibanding kecermatan gelombang theta.
Tekad Bulat atau Kemantaban Hati. Ketepatan bertindak merupakan langkah konkrit dalam pencapaian tujuan. Namun hal itu belum cukup untuk mewujudkan daya pangaribawa, masig diperlukan adanya KETANGGA, atau keketeg ing angga, yakni kuatnya kehendak dari dalam jiwa atau tekad bulat. Untuk mencapai satu tujuan kita tak boleh mencla-mencle, plin-plan, ragu-ragu akan apa yang kita tetapkan sebagai tujuan. Tetapi harus konsentrasi penuh melibatkan batin (hati nurani), tata lahir atau gerak ragawi yang termaktub dalam kecermatan penalaran, dan sebuah tekad yang bulat yang bersumber dari kekuatan jiwa.
NING. Ketiga sumber kekuatan pribadi di atas belumlah lengkap. Masih harus melibatkan ning atau wening, hening cipta. Ning merupakan bentuk konsentrasi yang lebih tinggi daripada ketiga konsentrasi di atas. Ning merupakan full consentration, konsentrasi penuh, menjadi satu KARYO LEKSONO. Atau lebih mudah saya istilahkan NYAWIJI yakni melibatkan kekompakan seluruh elemen daya kekuatan dalam diri pribadi untuk satu tujuan. Atau hanya bertujuan tunggal dan mengerahkan segala daya dari dalam diri secara KOMPAK. Individu yang nyawiji menyatukan beberapa komponen sebagai satu kesatuan gerak langkah.
Komponen tersebut meliputi 4 unsur yakni ;
Hati,
Pikiran,
Ucapan,
Tindakan nyata yang diarahkan kepada pencapaian tujuan yang satu.
Contoh paling mudah, pada saat anda membidik agar mengenai sasaran, anda perlu full konsentrasi yakni harus menciptakan keheningan, ketenangan, percaya diri, kesabaran dalam tekad yang bulat, yang disatukan dalam setiap hela nafas. Keadaan full consentration akan mudah dicapai saat menahan nafas beberapa saat lamanya. Nafas adalah kendali dan tali yang bisa mengikat konsentrasi anda. Hal ini menjelaskan juga mengapa olah pernafasan menjadi pelajaran utama dalam latihan meditasi, olah semedi, maladihening, mesu budi. Termasuk di dalamnya sebagai sarana menyatukan diri (aku) dengan dzat sifat, afngal tuhan (Ingsun).
Dalam tradisi tasawuf Jawa-Islam ala Syeh Siti Jenar disebut sebagai shalat dhaim.
Sepadan pula dengan apa yang termaktub dalam Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro ke IV sebagai sembah cipta, atau sembah kalbu.
Pada intinya ning adalah upaya mewujudkan pencapaian kehidupan yang meditatif. Yakni tercapainya kesadaran di atas kesadaran nalar (higher consciousness). Secara intuitif manusia dapat mengetahui apa yang akan terjadi di alam. Karena kita dapat menangkap seluruh vibrasi yang ada di alam semesta. Setiap akan terjadi peristiwa, selalu terjadi perubahan vibrasi yang sebetulnya bisa dirasakan jika kita mau mencermati pancaran gelombang vibrasi tersebut.
Di sinilah salah satu fungsi ning. Layaknya meditasi, ning membuat kita lebih peka, lebih memahami apapun yang sedang dan akan terjadi di sekeliling kita, bahkan apa yang terjadi pada belahan bumi yang lainnya.
PUASA EMPAT UNSUR MANUSIA
Pada dasarnya, setiap manusia dihadapkan pada puasa yang sejatinya, dilakukan selama 12 bulan berturut-turut tanpa henti sepanjang manusia hidup. Idealnya puasa tersebut disetting menjadi prinsip dan pola hidup dalam pergaluan dan kehidupan bermasyarakat. Adapun puasa meliputi puasa 4 unsur inti manusia.
1. PUASA JASAD/RAGA/BADAN KASAR
Terdiri dari beberapa puasa antara lain PUASA MULUT yakni ; Tidak bicara yang membuat sakit hati orang lain, tidak bicara yang mencelakai orang lain. Tidak berucap yang membuat keresahan dan kegelisahan. Sebaliknya, kita manfaatkan mulut kita bertutur kata yang menentramkan perasaan sesama. Menghibur bagi yang sedang tertimpa kesusahan. Berbicara yang bersifat konstruktif dan membangun.
PUASA PIKIR ; Tidak berprasangka buruk, tidak negative thinking, tidak picik akal, tidak membuat rencana buruk, destruktif, propokatif. Sebaliknya, bukalah pikiran seluas-luasnya, tidak hanya mengandalkan konsep berfikir sebagai senjata utama mengupas permasalahan, jadikan pikiraan yang mampu menerima sinyal-sinyal dari batin agar pikiran menjadi lebih cermat dan teliti. Mulailah membaca sesuatu berangkat dari pikiran yang netral dan prasangka positif.
PUASA BADAN jasmani ; Tidak mengumbar nafsu makan, tidak mengutamakan kenikmatan ragawi, tidak bertingkah provokatif ; mencelakai orang lain, menyinggung perasaan orang, tidak berulah atau bersikap menganggu ketentraman dan kebahagiaan sesama. Makan pada saat rasa lapar telah tiba, berhenti sebelum kenyang. Namun lebih baik makan seadanya atau tidak mengada-ada atau memaksa mengadakan.
PUASA TELINGA ; tidak memanfaatkan telinga untuk sesuatu yang merugikan dan mencelakai orang lain. Sebaliknya, telinga dimanfaatkan untuk tindakan-tindakan yang konstruktif, yang dapat membangun kemuliaan hidup diri sendiri dan orang banyak.
2. PUASA HATI/KALBU/CIPTA
Tidak iri dan dengki terhadap prestasi orang lain, tidak panasten, tidak melecehkan dan meremehkan pendapat orang lain sekalipun ia kita sangka bodoh, karena jalma tan kena kinira. Tidak kagetan, tidak gumunan, tidak egois, tidak picik hati. Sebaliknya; menjadikan hati sebagai gudang ilmu dengan cara membuka hati dari luasnya ilmu pengetahuan dan sumber-sumber kebenaran.
3. PUASA JIWA/SUKMA/ROH
Tidak berkeinginan yang berlebihan atau melebihi batas kewajaran. Tenang, awas, tidak mudah terkecoh, tidak mudah panik dan gundah. Selalu eling dan waspada. Eling sangkan paraning dumadi, waspada terhadap segala hal yang menjadi penghalang kemuliaan hidup.
4. PUASA RAHSA
Duwe rasa, ora duwe rasa duwe. Akan menjadikan batin lebih tenang, hati tenteram, pikiran jernih, tidak mudah kecewa dan patah hati, badan selalu sehat jasmani dan rohani.
Di antara puasa 4 unsur tersebut tentu saja puasa unsur yang ke 2, 3 dan ke 4 semakin sulit dijalani. Namun tanpa pernah kita belajar dan mencobanya, ibarat komputer yang specnya dilengkapi dengan software tinggi dan canggih, namun software tersebut menjadi sia-sia. Sebab kita tidak bisa memanfaatkan performance dari software pemberian Tuhan secara optimal.
MACAM MACAM PUASA
merupakan salah satu lelaku prihatin yang dijalankan untuk mempurifikasi Jiwa,
mencapai ketenangan batin disamping juga menjaga kesehatan.
Puasa atau tapa merupakan sarana meditasi untuk menutup babahan hawa sanga ( sembilan lubang nafsu ) guna mencapai tingkat pengendalian sempurna atas diri. Ada berbagai macam puasa/tapa yang dilakukan orang Jawa, antara lain :
Mutih, Dalam puasa mutih ini seseorang tdk boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tdk boleh ditambah apa-apa lagi. Betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja.
Ngeruh, Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran / buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb.
Ngebleng, Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya-pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.
Pati geni, Tapa yang berpantang memakan segala makanan yang dimasak menggunakan api ( geni ). Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya).
Ngelowong, Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.
Ngrowot, Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja! Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja.
Nganyep, Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Perbedaan dengan Mutih adalah makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.
Ngidang,  Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja seperti hewan kijang. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.
Ngepel, Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja.
Ngasrep, Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.
Senin-kamis, Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Puasa ini identik dengan agama islam.
Wungon Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.
Tapa Jejeg, Tidak duduk selama 12 jam setiap hari selama tapa/puasa.
Lelono, Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).
Kungkum, Tatacara tapa Kungkum adalah sebagai beikut : Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar-pun dengan posisi bersila (duduk) didalam air dengan kedalaman air se tinggi leher. 1) Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai. 2) Menghadap melawan arus air 3) Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai 4) Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana. 5) Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan dilakukan lebih dari tiga jam (walau ada juga yang memperbolehkan pengikutnya kungkum hanya 15 menit). 6) Tidak boleh tertidur selama Kungkum. 7) Tidak boleh banyak bergerak 8) Sebelum masuk ke sungai disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu). 9) Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada. 10) Nafas teratur.11) Kungkum dilakukan selama 7 malam biasanya
Ngalong, Tapa ini dilakukan dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang. Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.
Ngeluwang, Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah, jin dlsb).
Ngrame. Tapa Ngrame dilakukan ditengah keramaian, yakni selalu menebarkan kebajikan dan memerangi angkara seperti yang dilakukan oleh para ksatria yang diiringi Punakawannya dalam cerita pewayangan.
Menurut Dr. Simuh, orang Jawa juga melakukan tapa yang berhubungan dengan anggota badan, yakni :
Mata : tapanya mengurangi tidur, zakatnya tidak menginginkan apa yang sudah dipunyai orang lain.
Telinga : tapanya mencegah hawa nafsu, zakatnya menghindari mendengar segala perbantahan
Hidung : tapanya mengurangi minum, zakatnya tidak mencela keburukan orang lain.
Lisan : tapanya mengurangi makan, zakatnya menghindari menggunjing keburukan orang lain
Aurat : tapanya menahan syahwat, zakatnya menghindari perbuatan zina
Tangan : tapanya mencegah perbuatan mencuri, zakatnya lumuh mara tangan atau tidak memukul orang lain
Kaki : tapanya tidak untuk berjalan buat keburukan, zakatnya suka berjalan buat istirahat ( Simuh, 1988 : 344-345 )
Sedangkan menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, dalam upaya mendekatkan diri kepada Gusti Allah, manusia Jawa juga harsu menjalankan 7 macam tapa, yaitu :
Tapa Jasad, yakni laku badan jasmaniah. Hati agar dibersihkan dari sifat benci dan sakit hati, rela atas nasibnya, merasa diri pasrah terhadap ketentuanNya. Hal ini merupakan tingkah laku yang berada dalam tataran syariat.
Tapa Budi, yakni laku batin atau laku tarikat. Hati harus jujur, menjauhi segala bentuk dusta dan menepati segala janji.
Tapa hawa nafsu, yakni berjiwa sabar dan alim serta memaafkan kesalahan - kesalahan orang lain.
Tapa brata atau tapa rasa sejati, yakni menempa diri melakukan semedi untuk mencapai beninge kalbu atau ketenangan batin
Tapa Sukma, yakni bersikap ambeg parama arta atau bermurah hati, ikhlas dalam berbagi dan tidak mengganggu orang lain.
Tapa cahya amuncar, yakni agar hati selalu awas dan ingat, mengerti lahir batin, membedakan yang palsu dan sejati.
Tapa hidup ( tapaning urip ), yakni melakoni hidup dengan penuh kehati - hatian serta ikhlas tanpa rasa khawatir karena percaya segala sesuatu yang terjadi adalah merupakan kebijakan dari Gusti Allah Yang maha Mengetahui.
MEDITASI MENUJU KEMANUNGGALAN KAWULO GUSTI
Apa yang dikemukakan dibawah ini hanyalah sebagai pondasi atau landasan dasar perjalanan menuju Allah. Jadi setelah memperoleh pengalaman spiritual dari lelaku dibawah ini, bukan berarti bahwa perjalanan spiritual sudah diperoleh sempurna. Akan tetapi paling tidak dengan perjalanan ma’’rifat dasar berikut ini akan menjadi awal yang sangat baik untuk melanjutkan lelaku dan pengalaman spiritual lanjut.
Untuk memperoleh hasil optimal, maka praktik meditasi (khalwat, I'tikaf, atau tahannuts) dilaksanakan dengan urutan-urutan sebagai berikut
Mandi menyucikan jasmani dan rohani. Niat: Bismillahirrahmanirrahim, niyatingsun ngedusi seduluring papat, lima pancer, kanem bumi, kapitu Rasul, Allahu damalkah. Niyatingsun ngedusi badan jasmani, resik jaba suci jero. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Melaksanakan meditasi yang disebut sebagai shalat ma’rifat, dengan tata cara sebagai berikut : Dimulai dengan Tafakkur atau pemusatan pemikiran dan hati. Melakukan meditasi sampai ke tubuh, hati, dan pikiran hingga mencapai gelombang alfa (hening, tenang, tenteram, dan damai)
Cara melakukan tafakkur:
Mengambil napas sekuat mungkin, kemudian napas ditahan dibagian bawah perut.
Membaca wirid dalam hati (kalbu, batin)” Allah, Allah, Allah…”, sambil melepaskan napas secara perlahan.
Dilakukan sekitar 10x – 41x, sampai mencapai gelombang alfa.
Boleh membaca asma’ Allah yang lain, sesuai dengan keinginan kita (QS Al A’raf/7:180), utamanya asma ul husna.
Membaca surat al fatihah
Caranya: dilakukan dengan menahan napas cukup 1-3 kali
Mengucapkan niat (afirmasi) dan permohonan do’a atau do’a iftitah.
“Rabbi arinii andzur ilaika. Ya Allah, aku berhasrat menemui dan mengenalMu, jika Engkau izinkan, tunjukkanlah wajahMu padaku, agar aku dapat menyaksikanMu (bermusyahadah)” (Al A’raf/7:143)Dilakukan dengan menahan napas, mengucapkan niat tulus ikhlas kemudian melepaskannya secara perlahan-lahan.
Membaca shalawat satu kali, istighfar 3 kali dan membaca “hu-Allah” 3 kali.
Dilakukan dengan menahan napas, dan setelah selesai dikeluarkan perlahan-lahan.
Menutup 9 lubang (babahan nawa/hawa sanga), mati sakjeroning urip.
Membaca Allahu Akbar (1x) sambil mengankat tangan disamping kepala (takbiratul al ikram)
Meletakkan kedua ibu jari, menekan keduanya pada daun telinga yang kecil ( menutup telinga).
Meletakkan jari telunjuk, menekan pada kedua kelopak mata (dari kelopak mata atas menuju ke bawah)
Meletakkan kedua ujung jari tengah, menekan kedua lubang hidung (dari sisi samping kiri ke samping kanan hidung)
Sebelum menutup kedua lubang hidung , tarik napas secukupnya melalui mulut, kemudian ditahan semampunya di bagian bawah perut.
Meletakkan kedua jari manis menekan bibir atas, dan meletakkan kedua jar kelingking untuk menekan bibir bawah pada organ mulut kita.
Mengambil napas secukupnya melalui mulut, kemudian napas ditahan dibagian bawah perut.
Jika sudah tidah kuat menahan napas, lakukan “isbat”
Lidah diletakkan dilangit-langit bagian atas, gigi rapat, bibir rapat.
Isbat adalah menutup kedua mata dengan menggunakan kedua telapak tangan (yaitu, telapak tangan bagian dalam bawah, dan bagian atas menutup jidat.
Kembali ke posisi duduk awal dan mengatur napas, sambil berdzikir dalam hati “hu Allah” sebanyak 7 kali.
Membaca:”sahadat Allah, Allah, Allah lebur badan, dadi nyawa, lebur nyawa dadi cahya, lebur cahya dadi idhafi, lebur idhafi dadi rasa, lebur rasa dadi sirna mulih maring sajati, kari amungguh Allah kewala kang langgeng tan kena pati” (Syahadat Allah, Allah, Allah badan lebur menjadi nyawa, nyawa lebur menjadi cahaya, cahaya lebur menjadi (ruh) idhafi, (ruh) idhafi lebur menjadi rasa, rasa lebur menjadi sirna kembali kepada yang sejati, tinggallah Allah semata yang abadi tidak terkena kematian), dengan menahan napas.
Membaca”Ashadu-ananingsun, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, kang badan nyawa kabeh (Ashadu-keberadaanku, la ilaha-bentuk wajahku, illallah-Tuhanku, sesungguhnya tidak ada tuhan selain Aku. Yaitu, badan dan nyawa seluruhnya), dengan menahan napas.
Jika memiliki permintaan khusus, lakukan disertai niat dan permohonan yang tulus. Setelah doa diucapkan, lepaskan napas. Doa khusus diucapkan setelah membaca: “ashadu ananingsun, anuduhake marga kang padhang, kang urip tan kenaning pati, mulya tan kawoworan, elinge tan kena lali, iya rasa iya Rasulullah, tutuga alam padhang, iya iku hakekating Rasulullah, sirna manjing sarira ening, sirna wening tunggal idhep jumeneng langgeng amisesa budine, angen-angene tansah amadhep ing Pangeran”, sambil menahan napas. (Ashadu keberadaanku, yang menunjukkan jalan yang terang, yang hidup tidak terkena kematian, yang mulia tanpa kehinaan, kesadaran yang tidak terkena lupa, itulah rasa yang tidak lain adalah Rasulullah, selesailah berada di alam terang. Itulah hakikat Rasulullah, hilang musnah ketempatan wujud yang hening, hilang keheningan menyatu tunggal menempati secara abadi memelihara budi, angan-angan selalu menghadap Tuhan)
Melanggengkan daya rohani (shalat daim) dengan dzikir “sasahidan”: juga bisa dilakukan dalam kondisi hati berwirid dengan sasahidan (syahadat Ingsun sejati)
Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ana pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kanga ran allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tan kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pangerti,
Byar:
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Oa ana katon apa-apa
Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
Kalawan kodratingsun.
Artinya:
Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku
Untuk mengasah ketajaman mata batin, daya rohani dan menjaga ketajaman pancaindera (mengaktifkan indera “keenam”), ada baiknya setiap hari melakukan dzikir sebagai berikut:
Indera: mata, nafsu: muthmainnah. Dalil hati : La bashira illallah: Dzikir: la ilaha illallah
Indera: telinga, nafsu : Ammarah. Dalil hati : la sami’a illallah. Dzikir: Allah-u
Indera: hidung, Nafsu: shuffiyah. Dalil hati: la hayata illallah Dzikir: Hu Allah
Indera: mulut, Nafsu: lawwamah. Dalil hati: la kalima illallah. Dzikir: Allah
Selesai melakukan meditasi, ritual ditutup dengan bacaan “sabda sukmo, adhep-idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa 
Wasalam

ajaran jawa ajaran leluhur hitungan neptu pasaran Inti puasa jawa jawa.ilmu jawa yang berhubungan dengan orang jawa kebatinan kejawen kidung purwojati makna puasa mantra menahan hawa nafsu puasa semedhi weton

Pengobatan untuk ilmu sihir 

Kumpulan Dalil Tentang Ilmu Hikmah

Ilmu Hikmah adalah sesuatu pengetahuan tentang tata cara menggunakan doa-doa khusus, ayat Al-Quran, atau bacaan-bacaan tertentu untuk mendapatkan pertolongan dari Allah. 
Ilmu Hikmah mempelajari rahasia tersembunyi yang adalah dalam setiap kalimat doa, ayat suci ataupun rahasia huruf Al-Quran. Manfaat dari Ilmu Hikmah banyak sekali, dan mencakup urusan dunia akhirat.
Beberapa orang masih mempertanyakan boleh-tidaknya mengamalkan Ilmu Hikmah. 
 Bagi kami, soal keyakinan adalah hak asasi manusia. Apabila Anda nyaman dengan Ilmu Hikmah, Namun jika Anda merasa kurang cocok, tidak perlu memaksakan diri. Kami hanya berniat mengajarkan Ilmu Hikmah kepada orang-orang yang sepaham dengan kami. Sedangkan bagi orang yang tidak sepaham, harap Anda bisa bersikap bijaksana dan toleransi terhadap perbedaan. Hanya dengan demikian, kedamaian di dunia akan terus terjaga.
amalkan Ilmu Hikmah berikut ini  Al Qur'an, Hadits Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Ath Thibbun Nabawi, Mukhtarul Ahadits An Nabawiyyah, Khozinatul Asror, Al Ajwibah Al Gholiyah Fii 'Aqidatil Firqotin Naajiyah dan lain-lain. Insya Allah, dali-dalil ini bisa menunjukkan kepada Anda bahwa mempelajari Ilmu Hikmah diperbolehkan oleh Islam. Namun itu juga tergantung aliran atau Imam mana yang Anda anut. Satu ulama dengan ulama lainnya bisa punya pendapat yang berbeda. 
DALIL TENTANG ZI
PERTOLONGAN ALLAH BAGI YANG ZIKIR.
Sesungguhnya ALLAH berfirman, "Aku bersama hamba-Ku selama dia ingat kepada-Ku atau menyebut nama-Ku dan kedua bibirnya selalu bergerak dengan menyebut-Ku"
(HR. Ahmad dari Abu Huroiroh)
TERKABULNYA DOA TERGANTUNG PERSANGKAAN MANUSIA KEPADA ALLAH.
ALLAH berfirman, "ANA 'INDA ZHONNI 'ABDII BII WA ANA MA'AHU IDZAA DZAKARONII". Artinya : "Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya jika dia mengingat dan menyebut-Ku"
ZIKIR ATAU WIRID ITU HARUS ISTIQOMAH (TERUS MENERUS).
Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahwa Nabi bersabda, "AHABBUL A'MAALI ILALLAAHI ADWAAMUHAA WA-IN QOLLA". Artinya, "Perbuatan yang paling dicintai ALLAH adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit".
(HR. Bukhori dan Muslim)
DALIL TENTANG MA'UNAH
MA'UNAH BAGI MANUSIA.
Sesungguhnya ALLAH akan menurunkan MA'UNAH (Pertolongan) seukuran saat yang ditentukan dan akan menurunkan kesabaran seukuran bala (ujian-Nya)
(HR. Ibnu 'Adi dari Abu Hurioiroh)
HAKIKAT MINTA TOLONG.
Kepada Engkaulah kami menyembah dan kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
(Surat Al Fatihah ayat 5)
TAWASSUL (PERANTARAAN) MINTA TOLONG MELALUI MAKHLUK ALLAH.
Dan minta pertolonganlah kalian melalui Kesabaran dan Solat
(Surat Al Baqoroh ayat 45)
BANTUAN MALAIKAT.
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, pasti ALLAH menolong kamu dengan 5000 malaikat yang memakai tanda
(Surat Ali Imron ayat 125)
PERTOLONGAN BAGI YANG SELALU INGAT ALLAH.
Nabi SAW bersabda, "TA'ARROF ILALLAAHI FIR RO-KHOO-I YA'RIFKA FISY SYIDDAH". Artinya : "Berkenalanlah (ingatlah) kepada ALLAH dikala senang, maka ALLAH pasti akan mengingatmu dikala susah"
(Hadits Muttafaq 'Alayhi)
DALIL TENTANG DO'A
DOA MENOLAK TAKDIR.
Sesungguhnya seseorang akan susah rizikinya karena dosa yang menimpanya, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali Do'a dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali berbuat baik
(HR. Ibnu Hiban dari Tsauban)
MENOLONG DENGAN DOA.
Doanya orang Islam untuk saudaranya (seiman) pada saat temannya tidak mengetahuinya akan ALLAH kabulkan, di kepala orang yang berdoa itu ada malaikat yang diwakilkan kepadanya, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan baik, maka berkatalah malaikat itu : "AAMIIN (kabulkan Ya ALLAH), dan bagi kamu seperti tu"
(HR. Ahmad dari Abu Darda')
DOA ORANG YANG DIANIAYA PASTI DIKABULKAN.
Takutlah terhadap doanya orang yang teraniaya, maka sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya orang yang teraniaya dengan ALLAH
(HR. Turmudzi)
DOA HARUS YAKIN DIKABULKAN.
Berdoalah kalian dalam keadaan yakin dikabulkan
(Alhadits)
DALIL TENTANG RUQYAH (JAMPI-JAMPI, MANTRA)
BISA MENJADIKAN SYIRIK PEMAKAINYA.
Diterima dari Abdullah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya jampi-jampi, tangkal-tangkal dan pelet menjadikan musyrik."
(Ibnu HIbban)
Catatan : Bisa menjadikan Syirik jika sumbernya bukan Islami, kalimatnya tidak dimengerti artinya, diyakini bendanya atau kalimatnya yang mempunyai manfaat dan mudhorrot bukan ALLAHnya.
JAMPI YANG BERMANFAAT.
Tidak ada jampi-jampi (yang lebih utama dan lebih bermanfaat) kecuali untuk penyakit 'Ain (mata jahat) dan keracunan
(HR. Abu Daud)
BOLEHNYA JAMPI UNTUK PENYAKIT.
Rasulullah SAW memberi keringanan dengan jampi-jampi untuk penyakit 'Ain, keracunan dan kesemutan"
(HR. Imam Muslim dari Anas)
MANTRA SUCI.
Dari Abu Sa'id Al Khudry, sesungguhnya Jibril as pernah mendatangi Nabi SAW lalu berkata, "Hai Muhammad, apakah kau telah mengadu sakit". Nabi menjawab, "Ya". Lalu Jibril as berkata, "Dengan nama ALLAH aku menjampi-jampi kamu, dari segala penyakit yang menyakitimu, dan dari segala jiwa atau mata orang yang dengki, ALLAH akan menyembuhkanmu, dengan nama ALLAH aku menjampi kamu
(HR. Imam Muslim, Turmudzi dan Nasai)
JAMPI YANG BERMANFAAT.
Sahl bin Hunaif bertanya kepada Nabi SAW, "Apakah jampi-jampi itu baik?" Nabi menjawab, "Tidak ada jampi-jampi yang lebih bermanfaat kecuali untuk peyakit mata jahat, keracunan dan sengatan binatang berbisa"
(HR. Abu Daud)
BOLEHNYA JAMPI UNTUK PENYAKIT.
'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW memberi keringanan dalam masalah jampi-jampi untuk penyakit sengatan/patukan ular dan kalajengking"
(HR. Ibnu Majah)
JAMPI ATAU MANTRA BOLEH ASAL TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AKIDAH DAN SYARI'AT.
Diriwayatkan dari Ibnu Syihab Az Zuhri dia berkata, "Sebagian sahabat Rusulullah SAW pernah disengat/patuk ular maka Nabi SAW berkata, "Apakah ada orang yang bisa menjampinya?. Maka sahabat menjawab, "Sesungguhnya keluarga Hazm mereka membaca jampi-jampi untuk sengatan/patukan ular, maka ketika Engkau melarang jampi-jampi, mereka meninggalkan jampi-jampi tersebut." Nabi bersabda, "Panggillah 'Umaroh bin Hazm !" Lalu mereka memanggilnya lalu Umaroh menyodorkan jampi-jampinya, lalu Nabi bersabda, "Tidak apa-apa jampi-jampinya". Maka Nabi mengizinkannya kemudian ia membaca jampi-jampinya.
(HR. Ibnu Majah, Bukhori, Muslim, Nasai dan Ahmad)
Dari 'Auf bin Malik dia berkata : "Sesungguhnya kami membaca jampi di jaman jahliyyah, maka kami berkata: Wahai Rosulallaah bagaimana pendapatmu terhadap demikian itu? Lalu Nabi berkata : Sodorkan kepadaku jampi-jampi kalian, tidak apa-apa dengan jampi-jampi apabila tidak ada syirik di dalamnya"
(HR. Muslim dan selainnya)
DALIL TENTANG AZIMAT, RAJAH, WIFIQ
AZIMAT BERUPA TULISAN DOA-DOA
Habib Zaynul 'Abidin Ba'alawi berkata dalam kitabnya Al Ajwibah Al Gholiyah Fii 'Aqidatil Firqotin Naajiyah bab Berobat dengan Al Qur'an dan Nama-nama ALLAH : "Boleh menulis tangkal dan azimat dan menggantungkannya pada manusia dan binatang jika tidak ada di dalamnya kalimat yang tidak diketahui artinya. Maka sungguh telah tetap, bahwa Rosulullaah SAW mengajarkan kepada mereka (para sahabat) dari ketakutan : Aku berlindung dengan kalimat-kalimat ALLAH yang sempurna dari marah-Nya dan siksa-Nya dan kejahatan hamba-hambaNya dan dari godaan syetan dan kehadiran mereka. Maka adalah Abdullah bin Umar ra. mengajarkannya kepada anaknya yang sudah 'aqil (dewasa) dan menulisnya dan menggantungkannya kepada anaknya yang belum 'aqil (dewasa)"
(HR. Abu Daud dan Turmudzi)
AZIMAT BERUPA TULISAN AL QUR'AN.
Sekumpulan ulama Salaf berpendapat boleh menulis beberapa ayat Al Qur'an untuk penyakit 'Ain (mata jahat) kemudian meminum air basuhan tulisan tersebut. Berkata Imam Mujahid, "Tidak apa-apa menulis Al Qur'an dan membasuhnya dan meminumkannya kepada orang sakit". Dan seperti itu juga diriwayatkan dari Abi Qilabah. Dan disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa beliau menyuruh menulis 2 ayat Al Qur'an untuk wanita yang sulit melahirkan, lalu membasuhnya dan meminumnya. Dan berkata Ayub, "Aku pernah melihat Abu Qilabah menulis tulisan sebagian dari Al Qur'an lalu membasuhnya dengan air dan meminumkannya kepada seseorang laki-laki yang punya penyakit"
(Kitab AT Thibbun Nabawi halaman 133)
KHASIAT DAN KEKUATAN YANG TIDAK TERLIHAT YANG DITITIPKAN ALLAH KE SUATU BENDA MATI ITU MEMANG BOLEH ADA.
Benda bertuah berupa baju gamis milik Nabi Yusuf. ALLAH berfirman, "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini lalu letakkanlah baju gamisku ke wajah ayahku (Yakub as) nanti ia akan melihat kembali dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku"
(Surat Yusuf ayat 93)
Simpul Sihir Labid seorang Yahudi yang telah mensihir Nabi Muhammad SAW, kemudian Nabi Muhammad SAW menyuruh keluarganya untuk membuka simpulan itu dimana setiap membuka simpulan disuruh baca surat Al Falaq dan Annaas. Nabi tidak meminta ke ALLAH tapi menyuruh membuka simpul sihir itu, ini berarti kekuatan gaib bisa jadi ada di suatu benda, semua dari ALLAH juga.
(Lihat Lubabun Nuqul fii Asbaabin Nuzul surat Al Falaq dan An Nas)
Jubah Nabi Muhammad SAW, Asma binti Abi Bakr berkata : "Jubah ini pernah dipakai Nabi SAW lalu kami membasuhnya untuk orang sakit agar bisa sembuh dengan jubah tersebut"
(HR. Muslim, lihat Al Ajwibah Al Gholiyah Fii 'Aqidatil Firqotin Naajiyah bab Tabarruk (Ambil Berkah) Bi Aa-tsaarish Sholihin (Dengan Bekas Orang Sholeh))
Rambut Nabi Muhammad SAW, Kholid bin Walid pernah meletakkan rambut Nabi SAW di dalam pecinya. Lalu pernah pecinya terjatuh di salah satu perangnya, lalu Kholid bin Walid bersungguh-sungguh mengambilnya sehingga para sahabat mengingkarinya karena sebab perbuatan Kholid banyak para sahabat yang gugur. Maka berkatalah Kholid : Saya tidaklah melakukannya karena sebab peci itu tetapi karena di dalam peci itu terdapat rambut Nabi SAW agar tidak hilang berkahnya dan tidak jatuh ke tangan orang-orang musyrik.
(Kitab Asy Syifa karangan Qodi 'Iyadh)
Air Wudhu' Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan dari Abi Juhayfah : "Aku melihat Bilal mengambil air wudhu'nya Nabi SAW dan manusia (para sahabat) pun cepat-cepat mengambil air wudhu' Nabi tersebut. Lalu siapa saja yang mendapatkan air wudhu' Nabi tersebut mereka mengusapkan air wudhu' Nabi tersebut (ke tubuhnya), sedangkan yang tidak mendapatkan air wudhu' Nabi tersebut, mereka mengambil dari basahan di tubuh para sahabat Nabi (yang berhasil mengambil air wudhu' Nabi)"
(HR. Bukhori dan Muslim, yaitu untuk tabarruk dan memohon kesembuhan)
ULAMA MEMBOLEHKAN.
Telah berkata Imam Nawawi dalam kitabnya Syarhul Muhadzdzab, "Jikalau Al Qur'an ditulis di sebuah lauh (papan/batu tulis) atau pada bejana kemudian membasuhnya (tulisan tersebut) kemudian meminum air basuhan tersebut oleh orang sakit, maka berkatalah Hasan Bashri, Mujahid, Abu Qilabah dan Auza'i : ' Tidak apa-apa dengannya' . Tapi An Naha'i memakruhkannya". Telah berkata Qodi Husen dan Baghowi dan selain keduanya,"Jika menulis Al Qur'an di makanan yang manis atau makanan (lainnya) maka tidak apa-apa memakannya". Zarkasyi berpendapat tidak boleh memakan kertas yang bertuliskan ayat Al Qur'an. Ibnu Abdus Salam berfatwa makan dan minum dari kertas itu juga dilarang karena menjadikan kertas tersebut bertemu dengan najis bathin.
(Kitab Khozinatul Asror halaman 67)
MEDIANYA HARUS HALAL.
Imam Ahmad dan lainnya menyatakan tidak mengapa menulis Al Qur'an untuk orang yang kena musibah atau lainnya termasuk sakit dengan materi (media/bahan) yang dibolehkan lalu membasuh dan meminumnya. Tidak boleh menulisnya dengan selain Al Qur'an seperti tulisan-tulisan yang tidak dimengerti artinya dari bahasa-bahasa berbagai ajaran yang berbeda-beda, karena mengandung di dalamnya kekafiran. Materi (media)nya tidak boleh berupa darah dan semacamnya yang termasuk najis karena haram bahkan kafir. Tidak boleh juga semisal membolak-balikkan huruf Al Qur'an.
(Kitab Khozinatul Asror halaman 67 dan Tafsir Ruuhul Bayan pada akhir Surat Al Ahqof)
DALIL TENTANG SIHIR
PENGERTIAN SIHIR.
Sihir adalah kekuatan gaib yang diciptakan ALLAH untuk makhluk-Nya, dimana kekuatan gaibnya berupa kekuatan pengaruh ruh-ruh jahat (jin atau syetan), dan dapat berpengaruh pada unsur alam. Seperti diceritakan dalam Asbabun Nuzul surat Al Falaq dan An Nas yaitu ketika Nabi SAW sakit seolah mendatangi istri-istrinya ternyata tidak, dan ternyata setelah diberitahu oleh Malaikat, sihirnya ada pada sebuah sumur dan berupa tali yang disimpul-simpulkan. 'Aisyah ra. berkata, "Rasulullah SAW pernah disihir sehingga beliau sungguh berkhayal bahwa dirinya mendatangi istri-istrinya padahal beliau tidak mendatangi istri-istri beliau."
(HR. Bukhori dan Muslim, Abu Daud dan Ahmad.
Lihat kitab Ath Thibbun Nabawi Halaman 100)
HATI-HATI! Buku berjudul RAJA JIN menyesatkan. Karena menghina Imam Bukhori dan Muslim dengan perkataan, "Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim sebelum mereka bertobat"
Semoga pengarang buku tersebut yang merupakan buku best seller segera bertaubat dari tuduhannya dan kesombongannya seolah dirinya lebih 'alim dari Imam Bukhori dan Muslim.
DALIL TENTANG TRANSFER ILMU GAIB MELALUI MEDIA BENDA MATI
SARANA AIR DAN GARAM YANG DIYAKINI DAPAT MENGOBATI PENYAKIT SEBELUM ADA PENELITIAN ILMIAH OLEH PARA PAKAR ILMU PENGETAHUAN MODERN.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dia berkata, "Ketika Rasulullah SAW solat, ketika sujud beliau disengat oleh kalajengking pada jari-jarinya. Maka berpalinglah Rasulullah SAW dan beliau berkata, "Semoga ALLAH melaknati kalajengking itu, selama kau tinggalkan Nabi dan selainnya". Abdullah bin Mas'ud berkata, "Kemudian Nabi meminta bejana yang isinya air dan garam. Lalu beliau memulai meletakkan air dan garamnya tersebut ke tempat luka sengatan tadi dan beliau membaca Qul Huwallaahu Ahad dan Al Mu'awwi-dzatain (Al Falaq dan An Nas) sehingga luka sengatan tadi menjadi tenang"
(Kitab Ath Thibbun Nabawi halaman 141)
SARANA TANAH.
Dari 'Aisyah ra dia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila seseorang mengadu sakit atau ada yang punya bisul/kudis atau luka, maka beliau berkata dengan jari-jarinya seperti ini (Dan Sufyan meletakkan jari telunjuknya ke tanah kemudian mengangkatnya) dan beliau berkata, "Dengan Nama ALLAH, inilah debu tanah kami, dengan ludah sebagian kami, agar orang sakit kami disembuhkan, dengan izin Tuhan kami."
(HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)
TIUPAN KE TUBUH.
Dari 'Aisyah dia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila berbaring di tempat tidurnya, beliau meniup kedua tapak tangannya dengan (sebelumnya membaca) Qul Huwallaahu Ahad dan Al Mu'awwi-dzatain (Al Falaq dan An Nas) kemudian beliau mengusap wajahnya dengan kedua tapak tangannya tersebut dan mengusap bagian tubuh mana saja yang tangannya sampai."
(HR. Imam Bukhori dan Muslim)
DALIL TENTANG ISTIKHDAM / ISTIGHOTSAH (MINTA BANTUAN KE MAKHLUK)
Orang Islam dibantu KHODDAM MALAIKAT.
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, pasti ALLAH menolong kamu dengan 5000 malaikat yang memakai tanda
(Surat Ali Imron ayat 125)
Boleh minta bantuan langsung kepada KHODDAM MALAIKAT DAN WALIYYULLAAH.
Nabi SAW bersabda : "Jika kamu tersesat (di jalan) atau ingin pertolongan di bumi yang tidak ada orang yang baiknya maka katakanlah : YAA 'IBAADALLAAH A-GHII-TSUUNII (Wahai para penyembah ALLAH, tolonglah aku. Dalam riwayat lain : YAA 'IBAADALLAAH A'IINUUNII), maka sesungguhnya ALLAH itu memiliki para penyembahnya yang tidak kalian lihat"
(HR. Thobroni dari 'Atabah bin Ghozwan, lihat kitab Al Ajwibah Al Gholiyah Fii 'Aqidatil Firqotin Naajiyah bab Al Istighotsah)
Boleh minta bantuan KHODDAM JIN MUSLIM YANG SOLEH
(Tapi harus hati-hati, jangan terpengaruh permintaan syarat dari jin yang menyalahi syari'at dan akidah Islam). ALLAH berfirman, "Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari Jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).
(Al Qur'an surat An Naml ayat 17)
HARAM BERLINDUNG KEPADA JIN YANG TIDAK SOLEH.
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
(Surat Al Jin ayat 6)
DALIL TENTANG JUMLAH WIRID / ZIKIR
SEDIKIT TAPI TERUS MENERUS.
Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahwa Nabi bersabda, "AHABBUL A'MAALI ILALLAAHI ADWAAMUHAA WA-IN QOLLA". Artinya, "Perbuatan yang paling dicintai ALLAH adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit".
(HR. Bukhori dan Muslim)
DISUNNAHKAN JUMLAHNYA GANJIL.
Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya ALLAH itu berjumlah ganjil, Dia juga mencintai yang berjumlah ganjil."
DIULANGI TERUS AGAR TAMBAH YAKIN.
Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa Nabi SAW bersabda, "Apabila kamu mengadu sakit, maka letakkanlah tangan kamu ditempat yang sakit, kemudian katakanlah, "Dengan Nama ALLAH, aku berlindung dengan kemuliaan-Nya dan kuasa-Nya dari kejahatan apa yang aku dapatkan dari sakitku ini", kemudian angkatlah tanganmu kemudian ulangi demikian dengan jumlah ganjil"
(HR. Imam Turmudzi)
DALIL TENTANG IKHLAS
IKHLAS ADALAH KARENA ALLAH.
Katakanlah, "Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, matiku untuk Robb semesat alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya".
(Surat Al An'am ayat 162-163)
AMAL DITERIMA JIKA IKHLAS.
Diriwayatkan dari Abu Umamah, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya ALLAH Ta'ala tidaklah menerima suatu amal kecuali jika dilakukan secara ikhlas dan yang dicari adalah wajah ALLAH."
(HR.An Nasa-i)
IKHLAS MENJAUHKAN DARI NERAKA. Sesungguhnya ALLAH Ta'ala sungguh mengharamkan api neraka bagi orang yang mengucapkan LAA-ILAAHA ILLALLAAH, dengan demikian itu ia mencari wajah ALLAH.
(HR. Bukhori dan Muslim)
DALIL TENTANG KEPEKAAN BATHIN, FIRASAT. UCAPAN TEPAT
FIRASAT YANG BENAR ADALAH DENGAN CAHAYA ALLAH.
Nabi SAW bersabda, "ITTAQUU FIROOSATAL MU'MIN FA-INNAHUU YANZHURU BINUURILLAHI". Artinya : "Takutlah kamu terhadap firasatnya orang beriman (mu'min) karena ia melihat dengan cahaya ALLAH"
(HR. Turmudzi)
PERKATAAN YANG BENAR KARENA BANTUAN MALAIKAT.
Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya ALLAH memiliki malaikat di bumi yang berbicara di atas lisan anak cucu Adam dengan sesuatu yang ada pada seseorang dari perbuatan baik dan buruk".
(HR. Bayhaqy)
DALIL TENTANG UPAH JASA ILMU HIKMAH
BOLEH MINTA UPAH.
Abu 'Ubed, Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Al Hakim, dan Bayhaqi, dari Abu Sa'id Al Khudri ra. dia berkata: "Rasulullah SAW telah mengutus kami pada suatu peperangan 30 pengendara. Maka turunlah kami di suatu kaum orang Arab lalu kami minta mereka untuk menjadikan kami tamu mereka. Maka mereka menolak. Kemudian disengatlah ketua suku mereka oleh kalajengking lalu mereka berkata, Apakah pada kamu ada seseorang yang bisa menjampi dari sengatan kala jengking? Maka aku katakan : Ya, aku. Akan tetapi aku tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan kami sesuatu. Mereka menjawab, Kami akan berikan kalian 30 kambing. Abu Sa'id berkata maka aku baca ALHAMDULILAHI ROBBIL 'AALAMIIN (Surat Al Fatihah) 7x atas sengatan tersebut. Maka ketika kami menggenggam seekor kambing, disodorkanlah kepada kami darinya. Lalu kami manahan diri sehingga mendatangi Nabi SAW. Maka kami sebutkan demikian itu kepada beliau. Lalu Nabi menjawab, Dari mana kamu mengetahui bahwa Al Fatihah itu adalah jampi. Bagi-bagilah kambing itu dan buatlah untukku bersamamu."
BOLEH AMBIL UPAH DARI PENGOBATAN DENGAN AL QUR'AN.
Seorang sahabat Nabi SAW berkata : Aku telah mengambil upah atas kitab ALLAH (setelah mengobati orang dengan Kitab ALLAH)) sehingga kami tiba di Madinah. Lalu sahabat yang lain berkata (kepada Rasulullah SAW), Dia telah mengambil upah atas kitab ALLAH. Maka berkatalah Nabi 'Alayhis Sholaatu was Salaam, Sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah adalah Kitab ALLAH.
(HR. Imam Ahmad, Bukhori dan Bayhaqy dari Ibnu 'Abbas ra)
UPAH ITU BAGIAN DARI AL QUR'AN.
Abu Nu'aim meriwayatkan, dari Abu Huroiroh ra, "Telah besabda Nabi 'Alayhis Sholatu was Salam, 'Barangsiapa mengambil upah atas Al Qur'an, maka demikian itu bagiannya dari Al Qur'an.'"
IMAM MADZHAB SEPAKAT BOLEHNYA AMBIL UPAH.
Para Imam Madzhab yang 3 dan sebagian Ulama' Madzhab Hanafi dari golongan Ulama Mutaakhkhirin, mereka mengambil dalil dengan hadits-hadits ini (di atas) tentang mengambil upah.
TIDAK WAJIB MEMBERI / MENGAMBIL UPAH, BUKAN TIDAK BOLEH.
Dalam Risalah Bulughul Arob Li-dzawil Qurbi oleh Asy Syaronbilaly : Tidak boleh mengambil/meminta upah atas perbuatan taat seperti mengajari Al Qur'an, Fiqih, jadi Imam Solat, Adzan, memberi peringatan/zikir, hajji dan perang, maksudnya TIDAK WAJIB UPAH Dan menurut Ulama Madinah, BOLEH. Seperti itu juga (membolehkan upah) pendapat Imam Syafi'i, Nashir, 'Ishom, Abu Nashr, dan Abul Layts (semoga ALLAH TA'ALA merahmati mereka).
Demikian beberapa dalil tentang Ilmu Hikmah yang kami himpun dari berbagai sumber. Adapun dalil ini bukan untuk mengubah keyakinan Anda apabila Anda punya keyakinan lain. Dalil-dalil ini kami peruntukkan bagi Anda yang mau menyimak dan menerima ajaran Ilmu Hikmah dengan senang hati tanpa paksaan dari siapapun.
Untuk selanjutnya, keputusan ada di tangan Anda sendiri. Sebagai manusia merdeka, Anda berhak untuk menerima atau menolak keberadaan Ilmu Hikmah. itu semua adalah hak Anda sepenuhnya. Kami sebagai penyelenggara kursus hanya memberikan fasilitas belajar kepada Anda yang ingin mempelajari Ilmu Hikmah sesuai yang diajarkan
Semoga bermanfaat.

Selasa, 21 Oktober 2014

kidung purwojati

Kidung Purwojati
Karya : Sunan Kalijaga
1.Ana kidung rumeksa ing wengi, teguh ayu luputa ing lara, luputa bilahi kabeh, jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni anemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna duduk pan sirna.
2. Sakehin lara pan samja bali, sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune, sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki, sakehing wisa tawa, sato kuda tutut, kayu aeng lemah sangar songing landak, guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing merak.
3. Pagupakaning warak sakalir, nadyan artja mjang sagara asat, satemah rahayu kabeh, dadi sarira aju, ingideran mring widhadari, rinekseng malaekat, sakatahing rusuh, pan dan sarira tunggal, ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.
4. Napasingun Nabi Isa luwih, Nabi Yakub pamiyarsaningwang, Yusuf ing rupaku mangke, Nabi Dawud swaraku, Yang Suleman kasekten mami, Ibrahim nyawaningwang, Idris ing rambutku, Bagendali kulitingwang, Abu Bakar getih, daging Umar singgih, balung Bagenda Usman.
5. Sungsumingsun Fatimah Linuwih, Siti Aminah bajuning angga, Ayub minangka ususe, sakehing wulu tuwuh, ing sarira tunggal lan Nabi, Cahyaku ya Muhammad, panduluku Rasul, pinajungan Adam syara”, sampun pepak sakatahing para nabi, dadi sarira tunggal.
6. Wiji sawiji mulane dadi, pan apencar dadiya sining jagad, kasamadan dening Dzate, kang maca kang angrungu, kang anurat ingkang nimpeni, rahayu ingkang badan, kinarya sesembur, winacaknaing toja, kinarya dus rara tuwa gelis laki, wong edan dadi waras.
7. Lamun arsa tulus nandur pari puwasaa sawengi sadina, iderana gelengane, wacanen kidung iki, sakeh ama tan ana wani, miwah yen ginawa prang wateken ing sekul, antuka tigang pulukan, mungsuhira lerep datan ana wani, teguh ayu pajudan.
8. Lamun ora bisa maca kaki, winawera kinarya ajimat, teguh ayu penemune, lamun ginawa nglurug, mungsuhira datan udani, luput senjata uwa, iku pamrihipun, sabarang pakaryanira, pan rineksa dening Yang Kang Maha Suci, sakarsane tineken.
9. Lamun ana wong kabanda kaki, lan kadenda kang kabotan utang, poma kidung iku bae, wacakna tengah dalu, ping salawe den banget mamrih, luwaring kang kabanda, kang dinenda wurung, dedosane ingapura, wong kang utang sinauran ing Yang Widdhi, kang dadi waras.
10. Sing sapa reke arsa nglakoni, amutiha amawa, patang puluh dina wae, lan tangi wektu subuh, lan den sabar sukur ing ati, Insya Allah tineken, sakarsanireku, njawabi nak – rakyatira, saking sawab ing ilmu pangiket mami, duk aneng Kalijaga. Kuwasaning Artadaya
11. Sapa kang wruh Artadaya iki, pan jumeneng sujanma utama, kang wruh namane Artate, masyrik magrib kawengku, sabdaning kang pandita luwih, prapteng sagara wetan angumbara iku, akekasih Sidanglana, Sidajati ingaranan Ki Artati, nyata jati sampurna.
12. Ana kidung reke Ki Artati, sapa wruha reke araning wang, duk ingsun ing ngare, miwah duk aneng gunung, Ki Artati lan Wisamatti, ngalih aran ping tiga, Artadaya tengsun araningsun duk jejaka, mangka aran Ismail Jatimalengis, aneng tengeahing jagad.
13. Sapa kang wruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke Artadaya, tunggal pancer lan somahe, sing sapa wruh panu……sasat sugih pagere wesi, rineksa wong sajagad, ingkang….iku, lamun kinarya ngawula, bratanana pitung dina….gustimu asih marma
14. Kang cinipta katekan Yang Widhhi, kang….. madakan kena, tur rineksa Pangerane, nadyan….. lamun nedya muja samadi, sesandi ing nagara, …..dumadi sarira tunggal, tunggal jati swara, …..aran Sekar jempina
15. Somahira ingaran Panjari, milu urip lawan milu pejah, tan pisah ing saparane, paripurna satuhu, jen nirmala waluya jati, kena ing kene kana, ing wusananipun, ajejuluk Adimulya Cahya ening jumeneng aneng Artati, anom tan keneng tuwa
16. Tigalan kamulanireki, Nilehening arane duk gesang, duk mati Lajangsukmane, lan Suksma ngambareku, ing asmara mor raga jati, durung darbe peparab, duk rarene iku, awajah bisa dedolan, aranana Sang Tyasjati Sang Artati, jeku sang Artadaya
17. Dadi wisa mangka amartani, lamun marta temah amisaya, marma Artadaya rane, duk laga aneng gunung, ngalih aran Asmarajati, wajah tumekeng tuwa, eling ibunipun, linari lunga mangetan, Ki Artati nurut gigiring Marapi, wangsul ngancik Sundara
18. Wiwitane duk anemu candi, gegedongan reke kang winrangkan, sihing Yang kabesmi mangke, tan ana janma kang wruh, yen weruha purwane dadi
21. Sagara gunung myang bumi langit, lawan ingkang amengku buwana, kasor ing Artadajane, sagara sat lan gunung, guntur sirna guwa pesagi, sapa wruh Artadaya, dadya teguh timbul, dadi paliyasing aprang, yen lelungan kang kepapag wedi asih, sato galak suminggah.
22. Jin prayangan pada wedi asih, wedi asih sagunging drubigsa, rineksa siang-dalune, ingkang anempuh lumpuh, tan tumama mring awak mami, kang nedya tan raharja, sadaya linebur, sakehing kang nedya ala, larut sirna kang nedya becik basuki, kang sinedya waluya.
23. Gunung guntur penglebur guweki, sagara sat bengawan sjuh sirna, kang wruh Artadaya reke, pan dadi teguh timbul, kang jumeneng manusa jati, ngadeg bumi sampurna, Yang Suksma sih lulut, kang manusa tan asiha, Sang Yang Tunggal parandene wedi asih, Yang Asmara mong raga.
24. Sagara agung amengku bumi, surya lintang mjang wong sabuwana, wedi angidep sakehe, kang kuwasa anebut, dadya paliyasing prang dadi, paser panah sumimpang, tumbak bedil luput, liwat sakatahing braja, yen linakon adoh ing lara bilahi, yen dipun apalena.
25. Siang dalu rineksa Yang Widhhi, sasedyane tinekan Yang Suksma, kinedepan janma akeh, karan wikuning wiku wikan liring puja samadi, tinekan sedyanira, kang mangunah luhung, peparab Yang Tigalana, ingkang simpen kang tuwayuh jroning ati, adoh ingkang bebaya.
26. Sakehing wisa tan ana mandi, sakehing lenga datan tumama, lebur muspa ilang kabeh, duduk tenung pan ayu, taragnyana tan ana mandi, sambang dengan suminggah, samya lebur larut, ingkang sedya ora teka, ingkang teka ora nedya iku singgih lebur sakehing wisa.
27. Yen kinarya atunggu wong sakit, ejin setan datan wani ngambah, rinekseng malaekate, nabi wali angepung, sakeh ama pada sumingkir, ingkang sedya mitenah, miwah gawe dudu, rinu sak maring Pangeran, iblis na’nat sato mara mati, tumpes tapis sadaya.

wasallam